Petani Lokal Lebih Pilih Bibit Kualitas Rendah, yang Penting Murah

price of ampicillin without insurance by ·

var att köpa tetracycline

azithromycin prices Australia http://www.wanderingbears.co.uk/?w=buy-tetracycline-New-Zealand Bogor – Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menemukan kebiasaan buruk dari para petani di Indonesia. Menurutnya, mayoritas petani lokal lebih memilih mengunakan bibit kualitas rendah karena harganya murah

http://www.faeganspub.com/?f=buy-doxycycline-online-USA Hal itu diungkapkan Darmin dalam Musyawarah Nasional, Himpunan Alumni Institut Peetanian Bogor (IPB), di Ballroom IPB Internasional Convention Center, Sabtu (16/12/2017).

“Dari hasil penelitian itu saya mencoba mempelajari, seberapa rela masyarakat Indonesia membeli bibit yang bagus. Karena dari produktivitas rendah itu bibitnya jelek atau enggak palsu, hasilnya mengejutkan sekali, kerelaan kita untuk itu rendah dibandingkan Malaysia dan Thailand dan sebagainya, mereka (petani lokal) lebih senang membeli yang murah (kualitas rendah) dibanding mahal tetapi bibitnya asli,” jelas dia.

Dari perilaku tersebut, Darmin mengungkapkan usaha untuk mencapai kemapanan pangan masih harus melalui jalur yang sulit. Petani harus paham, dan diberi sosialisasi mengenai kualitas bibit yang harus diutamakan demi mendapatkan hasil panen yang optimal.

“Nah kalau perilaku dasarnya begitu, maka usahanya jauh lebih berat, kita tidak bisa mengharapkan kalau itu masyarakat mengurusi sendiri, masyarakat kita lebih memilih bibit jelek asal murah, dibandingkan bibit banding sedikit lebih mahal,” papar dia.

Dirinya menjelaskan, mengenai permasalahan tersebut, pihaknya sudah mencoba untuk meningkatkan daya saing, mulai dari produksi kelapa sawit itu yang sudah memiliki Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

“BPDP itu dananya untuk subsidi bio diesel yang 20%, nah sisanya untuk peremajaan, jadi kita menyediakan dana untuk membeli bibit, membersihkan kebunnya, mengolah kayunya, kemudian di tanah baru dikembalikan ke petani, apalagi kalau tidak ada mekanisme bagaimana mereka di dunia setelah itu. Sebenarnya pilihannya bisa dua kali lipat, separuh diremajakan, separuh tidak atau pelan- pelan ditanam yang baru,” jelas dia.

Lebih lanjut Darmin mengungkapkan, sektor perkebunan harus bertransformasi agar menjadi lebih produktif. Selain adanya kesadaran dari perlunya intensitas produksi, pengadaan mengenai bibit palsu juga perlu ditindak tegas.

“Ada beberapa unsur besar, yang pertama bibit, pemerintah harus berani menegakkan kalau bibit palsu itu kriminal, apa boleh buat tapi kita harus ke sana,” ungkap dia.

source site (ang/ang)



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *