Sempat Demo, Buruh Pelabuhan Tarakan Akhinya Terima Upah



Tarakan – Upah buruh pelabuhan yang tergabung dalam Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM), yang kemarin melakukan aksi damai di pintu gerbang pelabuhan Malundung Kota Tarakan, Kalimantan Utara, akan dibayarkan perusahaan yang telah memakai jasa mereka.

Berdasarkan hasil rapat antara Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tarakan, yang menaungi para buruh TKBM, Asosiasi Pengusaha Bongkar Muat (APBM), dan perwakilan TKBM. Disepakati nilai upah yang harus dibayarkan dan nilai upah baru yang akan menjadi acuan pembayaran di bulan selanjutnya.

“KSOP hanya mengetahui, mengenai kesepakatan nilai upah itu kesepakatan antara buruh, APBM, dan pemilik barang atau siper. Kalau di 2014 upah buruh itu Rp 3.100 per ton, tetapi di awal 2017 turun menjadi Rp 2.700 perton, dan dari hasil rapat ini disepakati menjadi Rp 1.100 per ton,” terang Kasi Lalu Lintas Laut, Angkutan Laut, dan Usaha Kepelabuhan KSOP Tarakan, Mahin,” Selasa (5/12/2017).

Dengan disepakatinya upah bongkar muat sebesar Rp 1.100 per ton dan diberlakukan mulai 5 Desember 2017, maka tunggakan pembayaran upah yang belum dibayarkan kepada para buruh akan menggunakan nilai upah sebesar Rp 2.700 per ton.

“Dengan demikian, tunggakan upah akan tetap mengacu kesepakatan sebelumnya, yaitu Rp 2.700 per ton, sedangkan mulai 5 Desember ini upah berubah menjadi Rp 1.100 per ton dan berlaku hingga ada kesepakatan nilai upah selanjutnya,” ungkap Mahin.

Dari beberapa siper, hanya ada dua pemilik barang yang belum membayarkan upah kepada buruh TKBM, diantaranya PT. Pipit Mutiara Jaya, dan PT. Kayan Prima Coal. Kedua siper ini merupakan pelaku usaha pertambangan batu bara.

Dalam rapat pembahasan upah buruh TKBM, Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Tarakan, Tajuddin Tuwo hadir sebagai pihak yang memfasilitasi untuk mendapatkan kesepakatan. Menurutnya, kesepakatan nilai upah buruh TKBM yang baru ini berlaku sejak ditetapkan pada 5 Desember 2017.

“Ini sudah disepakati kedua belah pihak, rapat seperti ini sudah sering dilakukan. Bahkan sudah mencapai 13 kali, tetapi tidak menemukan kesepakatan. Dan kali ini baru ada kesepakatan, dan hasil kesepakatan ini menjadi dasar pembayaran upah buruh TKM mulai hari ini,” jelas Tajuddin.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat (APBM) Tarakan, Sabran juga telah menyetujui upah baru yang telah ditetapkan. Diakuinya, terjadi penurunan upah perton dari tahun ke tahun. Hal ini dikarenakan tingkat perekonomian yang juga turun, belum lagi harga batu bara yang tidak menentu.

“Nilai ini sudah kesepakatan semua pihak, kenapa selalu ada penurunan upah perton hampir setiap tahun, karena memang ekonomi sedang tidak stabil dan harga batu bara tidak kondusif, sehingga pemilik barang atau siper meminta adanya penurunan upah perton,” terangnya.

Sementara itu, perwakilan dari buruh TKBM tidak ada yang mau berkomentar terhadap besaran upah baru maupun pembayaran upah yang menunggak sampai 10 bulan. Perwakilan buruh TKBM meminta untuk tidak diwawancarai, dan meminta kepada wartawan untuk mewawancarai pemerintah maupun APBM. (hns/hns)



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *