Si 'Uang Sakti' Bitcoin Tembus Rp 111 Juta, Ini Penyebabnya



Jakarta – Nilai tukar Bitcoin atau mata uang virtual tembus US$ 8.234 atau setara dengan RP 111,1 juta (kurs Rp 13.500). Menanggapi hal ini, CEO Bitcoin Indonesia, Oscar Darmawan, mengatakan kenaikkan tersebut adalah hal yang wajar.

Pasalnya pergerakan harga bitcoin tergantung dengan supply and demand. Saat ini permintaan bitcoin memang lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sehingga mempengaruhi harga sekeping bitcoin ini.

“Menurut saya wajar, mengingat selama beberapa tahun lalu Bitcoin masih sedikit penggunanya. Sekarang juga sebenarnya masih belum mainstream, tapi sudah banyak,” kata Oscar saat dihubungi detikFinance, Sabtu (25/11/2017).

Dia menyebutkan, saat ini sudah banyak pengguna seperti di Jepang dan Eropa. Pasalnya di negara tersebut sudah dilegalkan sebagai digital asset resmi di sektor keuangan.

“Agak ramai belakangan ini karena di Jepang dan Eropa sudah legal, peningkatan jumlah pengguna otomatis akan mengangkat harga bitcoin karena berdasarkan demand dan supply,” jelas dia.

Oscar menyebutkan, sejak 2 tahun terakhir jumlah pengguna bitcoin terbesar berada di Jepang, bukan China. Sehingga di China tidak ada aktivitas pertukaran. Namun, China sendiri masih menjadi pusat pertambangan bitcoin terbesar hingga saat ini.

Mengutip Bitcoin.com, harga bitcoin tercatat US$ 8.236 per keping atau setara Rp 111,1 juta. Ini merupakan pertama kalinya, padahal bulan lalu Bitcoin sempat merosot ke posisi US$ 5.000. Jika pergerakan ini terus berlanjut, bitcoin diprediksi bisa tembus US$ 10.000 per keping.

Mengutip CNN Money Bitcoin telah melonjak lebih dari 753% sepanjang tahun ini. Kemudian 40.000% dalam jangka waktu lima tahun saja. (hns/hns)



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *