Kabar Baik dan Berbagai Ancaman dari Hasil Pertemuan IMF-WB 2017



Washington – Rangkaian kegiatan annual meeting International Monetary Fund (IMF)-World Bank (WB) 2017 sudah selesai. Banyak kabar baik muncul dalam pertemuan tersebut, namun tidak sedikit juga berbagai ancaman untuk ekonomi dunia ke depannya.

Acara ini dihadiri oleh 189 negara, baik pemerintah, akademisi hingga swasta. Sementara dari Indonesia di antaranya yaitu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo.

Dalam rangkaian acara, ada beberapa pertemuan yang diikuti. Antara lain International Monetary and Financial Committee (IMFC) di mana Sri Mulyani sebagai Ketua Development Committee dan Agus Martowardojo sebagai Gubernur IMF.

Selanjutnya G20 dan beberapa pertemuan lainnya. Termasuk juga pertemuan persiapan Indonesia sebagai tuan rumah annual meeting IMF-WB di Bali pada 2018 yang juga melibatkan Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan.

Sri Mulyani menyampaikan, dari berbagai pertemuan ada kabar baik yang muncul di tengah masih adanya ketidakpastian ekonomi dunia. Seperti diumumkan oleh Managing Director IMF Christine Lagarde.

“Persentasi dari Lagarde bahwa kondisi ekonomi dunia tahun ini dan tahun depan akan meningkat cukup drastis. Ada recovery yang cukup positif. Tahun 2017 3,6% dan 2018 3,7%. Jadi ada momentum yang sangat kuat, ini berita baik untuk banyak negara yang akan berpengaruh terhadap permintaan ekspor dengan demikian akan terjadi penciptaan kesempatan kerja,” ungkap Sri Mulyani usai pertemuan di Kantor Pusat Bank Dunia, Sabtu (14/10/2017).

Sementara risiko yang harus dihadapi adalah kenaikan produktivitas yang masih terbatas sehingga pemulihan ekonomi tak bisa dianggap sempurna. Selanjutnya masih ada ancaman kemungkinan terjadi reverse capital outflow karena kebijakan normalisasi moneter dari negara maju. Kondisi gepolitik yang berpotensi menimbulkan gejolak atau mengganggu momentum pemulihan itu.

“Untuk negara sebaiknya gunakan momentum yang cukup positif untuk makin melakukan reformasi dalam rangka peningkatan ekonomi masing-masing,” tegas Sri Mulyani.

Sementara itu Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim, melaporkan hasil penelitian mengenai human capital. Sebuah laporan yang fokus pada pendidikan, sehingga bisa membantu negara berkembang untuk mengejar ketertinggalan dari negara maju.

“Bank Dunia juga fokus pada pekerjaan masa depan, karena dengan adanya tekonologi robot otomatisasi diperkirakan banyak sekali kesempatan kerja akan dihilangkan atau terkompetisikan dengan otomatisasai. pertanyaannya bagaimana negara menyiapkan teknologi berubah sangat cepat,” terang Sri Mulyani.

Dalam sesi diskusi tertutup, banyak sekali pembahasan yang cukup intens. Pertama, pemulihan di Eropa yang cukup kuat. Negara seperti Spanyol hingga Irlandia sejak krisis melakukan reformasi penuh, sehingga mampu menuju pulih.

“Banyak menkeu dengan kondisi politik di masing-masing negara masih sangat rapuh dalam artian dukungan untuk melakukan reformasi dalam rangkaian memperkuat ekonomi masih rapuh sehingga masih perlu lakukan pendekatan politik cukup baik,” ujarnya.

Sri Mulyani juga menyampaikan isu yang berkembang di internal IMF dan Bank Dunia. Adalah paket kenaikan modal dari para pemegang saham untuk pelaksanaan berbagai tugas, yang diharapkan bisa disetujui tahun depan.

Pada pertemuan G20, Sri Mulyani mengatakan sambutan dari Gubernur Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) Janet Yellen mengenai arah kebijakan suku bunga acuan dengan mempertimbangan kondisi ekonomi terkini dan inflasi.

“Kemudian kita juga mendengarkan topik mengenai financial sector dan regulation,” kata Sri Mulyani.

Dalam pembahasan cyber security banyak negara merasa ini sebagai ancaman serius karenamenyerang keamanan sektor keuangan.

“Perlu langkah bersama agar G20 untuk terus mewaspadai dan melihat ancaman dari sistem keuangan melalui serangan cyber security. Ini akan diusulkan jadi salah satu topik di bahas G20 ke depan,” imbuhnya.

Pembahasan yang dekat dengan Indonesia adalah pajak. Sri Mulyani menjadi pembicara utama dalam persoalan tersebut, dengan menyampaikan kebijakan reformasi pajak, program pengampunan pajak hingga persiapan AEOI dan fenomena e-commerce.

“Paling menonjol adalah munculnya fenomena e-commerce, di mana semua menkeu akan dilakukan kajian lebih mendalam, mengenai para menkeu respons terhadap tren yang semkain basis digital, bagaimana dari sisi policy dan perpajakan. salah satu paling penting memperluas konsep perusahaan sebagai fisik namun juga kegiatan ekonomi,” pungkasnya. (mkj/hns)



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *