Semen Baturaja pelopori penerapan silvikultur


Jakarta (ANTARA News) – Semen Baturaja berkomitmen mewujudkan industri semen yang berkesinambungan dan ramah lingkungan dengan menerapkan rekayasa silvikultur di pabrik semennya.

“Seiring dengan pertumbuhan bisnis dan kapasitas produksi, kami
berkomitmen untuk memberi kembali kepada alam melalui penerapan
silvikultur di pabrik kami,” ujar Direktur Utama PT Semen Baturaja
(Persero) Tbk Rahmad Pribadi di sela-sela Indonesia Business and Development (IBD) Expo 2017 yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) di
Jakarta.

Rekayasa silvikultur merupakan konsep rehabilitasi lingkungan area pabrik dengan cara menetralisir kadar racun yang timbul akibat eksploitasi industri dan kemudian menyuburkannya kembali.

Penerapan rekayasa silvikultur ini, menurut Rahmad, merupakan salah satu upaya perusahaan milik negara ini untuk mewujudkan praktik industri yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Praktik industri ramah lingkungan ini terwujud melalui kemitraan dengan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM) berkat keberhasilannya menghijaukan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang sebelumnya gersang dan tandus, katanya.

“Kami memang produsen semen pertama yang menerapkan silvikultur, tapi kami berharap sejumlah BUMN semen lainnya dapat mengikuti langkah kami,” kata Rahmad.

Perseroan yang didirikan pada 14 November 1974 itu terus mengembangkan bisnisnya dengan pasar utama berada di sekitar Sumatera Selatan dan Lampung, serta wilayah-wilayah Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup baik dan stabil.

BUMN yang sejak 14 Maret 2013 berstatus sebagai perseroan terbuka tersebut memiliki jaringan distributor produk di seluruh wilayah Sumatera Selatan, Lampung, Jambi dan Bengkulu.

PT Semen Baturaja (Persero) juga tengah menyiapkan peresmian pabrik Semen Baturaja II, yang dibangun dalam 26 bulan, dan telah memulai produksi. “Kami berharap pada September ini dapat diresmikan,” demikian Rahmad Pribadi.

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © ANTARA 2017






Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *