Dana Desa Umpan Bagi Para Tikus Koruptor


sumber:kompasiana

Sebagian besar dari kita pasti pasti pernah mengalami bagaimana kesalnya bila ada tikus dirumah. Suara berisik di langit-langit kamar saat malam pasti sangat mengganggu saat istirahat kita. Segala cara kita lakukan untuk mengusir para tikus, dengan jebakan tikus atau dengan umpan tikus. Biasanya kita beli racun tikus lalu kita letakan ditempat mana tikus suka muncul.

Nah melihat dari sisi analogi ini saya mencoba berpikir tentang dana desa yang digulirkan oleh pemerintahan Jokowi. Bagi saya dana desa merupaka umpan yang ditebarkan agar para tikus curut itu muncul dan bila pas waktunya digebuk oleh KPK.  Buat saya ini cara jenius dari Jokowi dalam melakukan revolusi  mental.  Tikus-tikus busuk di pemerintahan baik tingkat desa, kelurahan maupun kecamatan samapai kabupaten, pasti akan muncul apabila ada umpan yang menggugah selera, yaitu fulus. Semerbak harum fulus langsung membuat para tikus busuk itu muncul dan menggasaknya. Saat mereka dalam pesta poranya tidak sadar mereka telah masuk dalam perangkap jebakan. Top memang Jokowi seorang pecatur ulung.

 

“Terdapat sedikitnya 110 kasus korupsi anggaran desa yang telah diproses oleh penegak hukum dan diduga melibatkan 139 orang pelaku dengan kerugian sedikitnya mencapai Rp 30 miliar,” kata Peneliti ICW, Kurnia Ramadhana saat konferensi pers dalam acara bertajuk ‘Pantauan ICW soal korupsi dana desa’, di Kantor ICW, Jalan Kalibata Timur IV D, Jakarta Selatan, Jumat (11/8/2017). https://www.merdeka.com/peristiwa/icw-temukan-107-kepala-daerah-terlibat-korupsi-dana-desa-2016-2017.html

Melihat begitu banyaknya kasus-kasus korupsi dana desa yang terungkap, seharusnya menjadikan cermin bagi para pejabat ditingkat pusat untuk semakin menunjukan sikap

Proses pembelajaran memang tidak mudah, yang kita lihat sekarang yaitu kasus mega korupsi e-KTP yang sampai melibatkan pihak FBInya Amerika menunjukan bahwa mental korupsi sudah marak di negeri sejuta rumah ibadah ini. Ini yang terjadi jika keimanan seseorang hanya dilihat dari luarnya saja. Tampak luar agamis dan sopan, hati dan pikirannya busuk dan mati, sehingga rumah ibadah hanya jadi sarang menipu orang lain bahwa dirinya lebih beragama dari  yang lain.

Tentu saja proses pembelajaran ini tidak akan berguna bila mereka yang katanya para pejabat tidak mau belajar dari masalah-masalah itu.

Saking parah dan akutnya masalah mental yang diidap bangsa ini, sampai-sampai ada anekdot sinis yang bilang bahwa cara menghilangkan mental korupsi di Indonesia yaitu dengan melenyapkan orang-orang yang berusia 10 tahun keatas dari bumi Indonesia, dan sehingga hanya anak-anak yang hidup di Indonesia. Karena apa? Karena orang-orang yang berumur diatas 10 tahun sudah mulai menampakan jiwa korupnya penyebabnya adalah karena mereka belajar dari lingkungan, pikirannya dicekoki bahwa koruptor itu hidup enak, bahkan di penjara saja mereka masih bisa hidup mewah.

Saat revolusi mental mulai digagas oleh Jokowi, beliau bukannya tidak tahu bagaimana rusaknya mental para pejabat di negeri ini. Sebagai pengusaha beliau pasti mengerti dan mengalami bagaimana dalam  proses pembuatan ijin membuat usaha saja harus disiapkan amplop-amplop mulai amplop berisi sepuluh ribuan rupiah, sampai amplop nilai ratusan juta rupiah.

Korupsi sepuluh ribu bukan isapan jempol belaka, jika dibiarkan maka orang-orang bermental sepuluh ribuan ini akan meningkatkan kemampuannya karena serakah dan tamak adalah sifat yang dimiliki semua manusia di bumi ini. Kita harus mampu mengolahnya, nilai-nilai agama seharusnya meningkatkan kemampuan manusia untuk mengolahnya, tapi yang terjadi sekarang justru agama dipakai sebagai jubbah penutup sifat-sifat buruk manusia itu sendiri. Sampai-sampai ibadah pun menggunakan uang hasil korupsi.

Untuk itu bagusnya dana desa ditingkatkan jumlahnya agar para tikus koruptor yang berselubungkan baju agamis itu semakin meleleh air liurnya dan akhirnya muncul menunjukan ekornya menunjukan jati diri dan kebusukannya. Lalu disaat yang tepat KPK mulai bergerak dan menggebuknya.

Jangan takut untuk melaporkan penyimpangan, jangan takut melaporkan pungli,korupsi sekecil apapun karena dari yang kecil bisa menjadi besar. Seword bisa menjadi media untuk melaporkan hal-hal seperti ini karena Seword adalah bagian dari pembaharuan, bagian dari pendukung Revolusi Mental.

Saatnya berubah, jangan diam saja, semoga tulisan sederhana ini bisa menggugah kita untuk mulai bergerak dari hal yang kecil dari sekarang.

 

Selamat hari Minggu, selamat berlibur.

#sayaIndonesia

#sayaNKRI

#saya pancasila



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *