Pasangan Surut Tren Poligami dalam Film


Beberapa tahun terakhir belakang ini, tren poligami cukup meningkat di masyarakat. Ada beberapa meme gambar yang seringkali para perempuan rela dipoligami. Namun, tren poligami ini bermula dari sebuah film yang ada di Indonesia. Film yang booming mengangkat poligami terakhir ini adalah ‘Surga yang Tak Dirindukan’.

Awal mula poligami menjadi hits karena diangkat dari sebuah film ‘Ayat-Ayat Cinta’. Film yang diadaptasi dari sebuah novel Habiburahman menjadi film terlaris pada tahun 2008. Yakni, sekitar 3,5 juta penonton yang menonton film tersebut.

Sosok Fahri yang diperankan Fedi Nuril tak mengenal pacaran hingga akhirnya menikahi Aisha Greimas (Rianti Cartwright). Pernikahan itu membuat sahabatnya Maria Girgis (Carissa Putri) menderita karena memendam cintanya kepada Fahri. Fahri pun akhirnya menikahi Maria yang telah masuk Islam. Tapi Maria ternyata tak mampu melawan penyakitnya hingga akhirnya meninggal.

Film tersebut dilawan oleh film ‘Ketika Cinta Bertasbih’. Film yang diangkat dari buku Habiburahman ini ditonton oleh 3,1 juta orang mendapatkan perhatian. Sosok Anna yang diperankan oleh Oki Setiana Dewi mengajukan syarat ketika calon suaminya ingin melakukan poligami. Lalu Anna menyodorkan kitab Al Mughni karya Ibnu Qudamah.

Setelah tujuh berselang, baru pada tahun 2015 film ‘Surga yang Tak Dirindukan’ mengangkat kembali film bertema poligami. Film yang dibintangi oleh Fedi Nuril dan Laudya Chintya Bella terbilang cukup sukses. Hanya saja, film tersebut tidak seheboh dua film lainnya. Film yang diadaptasi dari novel karya Asma Nadia ini hanya ditonton 1,5 juta orang. Hanya saja, mampu membawa baper sejumlah penontonnya.

Sosok Prasetya yang diperankan Fedi Nuril seakan tidak berdaya dengan keputusan tidak sengajanya untuk berpoligami. Diawal, sosok Arini yang diperankan oleh Bella berontak dengan poligami yang dilakukan oleh suaminya dengan Mei Rose diperankan oleh Raline Shah. Namun, Arini pada akhirnya mampu berdamai dengan keadaan dan menerima poligami yang dilakukan oleh suaminya.

Dari ketiga film tersebut, sebenarnya saya cukup tertarik dengan film kedua, yaitu film ‘Ketika Cinta Bertasbih’. Di mana dalam film tersebut, ada tidaknya poligami ada di tangan perempuan. Dengan mengajukan syarat sebelum pernikah adalah salah satu cara untuk terhindarnya poligami. Sebab, dalam suatu pernikahan yang paling disoroti adalah perempuan.

Sebenarnya, saya cukup senang dengan film tersebut. Mainset masyarakat terhadap poligami karena film pertama, bisa ditepis dengan film kedua. Akan tetapi, mainset tersebut kembali berubah dengan adanya film ketiga.

 

Kembali mengingat film ‘Surga yang Tak Dirindukan’, dalam film tersebut sosok suami Prass dianggap tidak bisa bertindak tegas. Bisa-bisanya, dia melakukan menikahi May Rose tanpa disengaja. Pras juga tidak bisa menjelaskan alasan kepada Arini, kenapa bisa menikahi May Rose.

Dua film tersebut, seakan membuat masyarakat terhipnotis. Serta turut mengubah pandangan, poligami tidak menjadi masalah. Terutama pada film ‘Ayat-Ayat Cinta’ dan ‘Surga yang Tak Dirindukan’ ini orang ketika dalam pernikahan akan pergi. Hal tersebut mengingatkan, bahwa orang ketiga dianggap sebagai perusak hubungan suami-istri. Artinya, tamu yang tak undang dan inginkan bisa pergi.

Setelah film tersebut, dua tahun berturut-turut perfilman Indonesia kembali dihiasai oleh film poligami. Yakni, Film ‘Athirah’ pada 2016 dan ‘Surga yang Tak Dirindukan 2’ pada 2017. Bahkan, film ‘Athirah’ ini menjadi film dinobatkan menjadi film terbaik. Film poligami yang berganti itu, seakan berusaha mengubah poligami saling bergantian.

Tapi, Kok bisa ya film poligami ini ditayangkan terus? Apa sebagai warga Indonesia telah demam poligami? Memang, poligami ini masih jadi perdebatan disebagin kalangan. Terutama di kalangan perempuan. Dalam film-film tersebut selalu digambarkan pemberontakan dalam batin  istri pertama.

Menyikapi kasus poligami tidak bisa berpandangan benar atau salah. Apalagi jika disangkutan dengan ranah agama. Di mana Nabi Muhammad SAW memberikan contoh poligami. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah alasan-alasan untuk melakukan poligami. Begitu juga dengan alasan agama, para lelaki bisa melakukan poligami dengan bebas dan semaunya.

Pada akhirnya, perempuan yang menjadi objeknya. Namun, khusus untuk para perempuan, mereka diciptakan yang pasti bukan hanya sekedar menyimpan mani lalu hamil dan melahirkan. Perempuan bukan hanya sebagai alat instrumentasi seksual demi berkembangbiaknya spesies yang bernama Phytecantropus Erectus.



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *