SNSD di Mata, Jokowi di Hati


Sebenarnya sudah dari beberapa bulan lalu ingin menulis artikel mengenai boyband dan girlband Korea tanpa dikait-kaitkan masalah politik. Namun, saya kaget ketika seorang psikolog dengan gegabahnya mengatakan bahwa SNSD (Girls Generation)  itu simbol seks dan juga pelacur. Mengagetkan karena muncul dari mulut seorang psikolog. Bagaimana mungkin seorang psikolog tidak memikirkan dampak psikologis yang akan diderita orang-orang yang dilabeli pelacur? Bagaimana pula perasaan orang tua mereka mendengar anaknya dicap pelacur oleh seorang psikolog?

Jika SNSD adalah grup pelacur, saya pikir mereka sudah akan dilarang tayang di negaranya sendiri.  Jangan berpikir karena mereka negara bebas, maka semuanya dibebaskan.  Justru saya pikir Indonesia lebih bebas ketimbang Korea untuk beberapa hal. Beberapa video Klip di sana terkena larangan tayang di televisi karena dianggap terlalu vulgar. Bukan hanya video saja, lirik yang dianggap tidak senonoh puh bisa dilarang di sana.

Sebaliknya di Indonesia lagu-lagu lirik lagu dangdut yang tidak senonoh dapat kita dengar di tempat umum seperti bus dan angkot. Saya pernah mendapati anak kecil menyayikan lagu dangdut yang liriknya tentang suami yang menikahi perempuan lain  dan memiliki istri baru. Kalau yang tahu lagu ini liriknya kan jelas sekali bukan untuk konsumsi anak-anak.

Bukan hanya itu saja, orangnya pun bisa kena larang tayang jika dia terkena kasus. Dalam acara Korea bernama Law of The Jungle, salah satu personil Super Junior, Kang In di-cut di setiap penampilannya. Dari awal acara dia tidak diperkenalkan. Gambarnya terkadang di perbesar agar dia tidak masuk ke dalam frame.  Suaranya pun diperkecil sehingga orang-orang yang menonton benar-benar melupakan keberadaannya. Kasihan, sudah capek-capek bertahan hidup di hutan, tapi tidak muncul sama sekali di TV. Tapi, lebih kasihan lagi pada orang yang harus susah payah mengedit acara itu.

Lihat, bagaimana TV-TV di Korea berani memberi hukuman pada mereka yang terkandung kasus. Bagaimana pun para boyband dan girlband itu telah memiliki label idola. Stasiun TV di sana pasti tidak ingin dihujat karena menampilkan idola yang tidak pantas diidolakan.

Para idola itu, semasa menjalani pelatihan untuk menjadi artis, tidak hanya belajar menyanyi dan menari. Mereka pun harus belajar tentang etika dalam acara. Di Korea hal ini dikenal dengan sebutan bangsong Manner. Mereka tahu, bahwa mereka dilihat banyak mata. Banyak anak-anak dan remaja yang mengdolakan mereka.  Karena itu, mereka harus sangat berhati-hati dalam bersikap. Bukan rahasia lagi, kalau warganet Korea itu terkenal pedas dalam berkomentar.

Pernah satu kali saya melihat salah satu personil EXO, tidak sengaja mengeluarkan kata umpatan karena dia hampir menghapus file musiknya. Sadar dengan kesalahannya,  secara spontan dia langsung menutup mulutnya sambil melekatkan dengan jari-jari tangannya.

Hidup menjadi artis di Korea itu melelahkan. Pacaran kena hujatan, tidak pakai make-up diomongin, kalau jadi pelacur, karier mereka pastilah sudah hancur.

Memang harus diakui, tidak semua hal dari K-Pop itu baik. Kita tetap harus bisa menyaringnya. Namun, membaca berita tanpa menyaringnya sampai mengatakan mereka adalah pelacur dan simbol seks pun saya rasa itu tidak bijaksana.

Sebenarnya kedatangan mereka ke Indonesia adalah hal yang tidak perlu diributkan. Isu ini lagi-lagi terasa klise. Mengapa ributnya baru sekarang? Zaman pak SBY, mereka pun pernah manggung di Indonesia, tapi tidak ada tuh kalimat yang mengatakan mereka pelacur. Akhirnya sulit memang untuk tidak beropini: semua ini gara-gara Jokowi!

Bergeser sedikit dari masalah  Industri K-POP, saat ini saya sedang menonton drama Korea yang dibintangi oleh salah satu personel SNSD, Im Yoona. Dia berperan sebagai So Ah di drama ini. So Ah kehilangan Ibunya yang dibunuh oleh orang-orang dari  Kerajaan. Sebelum meninggal ibunya berpesan kepadanya agar dia tidak hidup dalam kebencian, selalu tersenyum dan terus berlari dalam menjalani hidup. Dan inilah kata-kata So Ah saat dia mengingat pesan ibunya.

Drama The King Loves

“Tidak sulit, aku bisa berlari saat menangis. Aku pun bisa tersenyum walau sebenarnya aku menangis. Aku cepat terbiasa.  Tetapi, hidup tanpa kebencian itu sulit!”

Saat menonton drama ini saya terdiam mendengar kalimat terakhir ini. Bohong jika saya katakan saya adalah pribadi yang tidak punya rasa benci sedikit pun kepada seseorang. Namun, kesadaran akan masih adanya kebencian dalam diri saya, selalu mengigatkan saya agar tidak mengambil tindakan atas dasar benci.

Kata-kata So Ah memang benar, sulit rasanya hidup tanpa kebencian. Mungkin itu pula lah yang saat ini banyak dirasakan oleh orang-orang yang membenci Jokowi. Sulit untuk melepaskan rasa bencinya. Seakan-akan apalah artinya hidup jika tidak membenci Jokowi. Sehingga tidak sadar akan tindakan-tindakan yang diambil bukan untuk kebaikan, tetapi untuk merayakan kebencian.

Referensi:

https://www.kapanlagi.com/foto/berita-foto/asian-star/tak-layak-tayang-10-video-populer-korea-kena-tilang-stasiun-tv.html



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *