Pengusaha Ritel Keluhkan Ekonomi Lesu



Jakarta – Beberapa pihak memandang ekonomi Indonesia sedang lesu. Hal itu terlihat dari beberapa roda sektor bisnis yang melambat, salah satunya sektor ritel.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) Tutum Rahanta mengatakan memang saat ini industri ritel tanah air terasa melemah. Namun pelemahannya berbeda-beda dari masing-masing produk ritel.

“Produknya beda ya beda. Pemain makan minuman dan pakaian berbeda. Yang terasa paling besar di ritel pakaian berkisar 15%. Penurunannya itu year on year di puasa dan Lebaran kemarin,” tuturnya saat dihubungi detikFinance, Selasa (1/8/2017).

Tutum mengakui memang data-data makro ekonomi terlihat baik, seperti pertumbuhan ekonomi balik ke level 5% dan laju inflasi yang terjaga di kisaran 3%. Namun dia heran mengapa kondisi nyata di lapangan tidak terasa bagi pelaku industri ritel.

“Ini catatan penting bagi pemerintah. Data mereka sudah benar, tapi kita ingin menyampaikan, kenapa indikator makronya baik tapi kenapa ini enggak nyambung. Apa penyebabnya,” imbuhnya.

Tutum menambahkan, ritel di sub sektor minimarket seharusnya yang paling merasakan daya beli masyarakat yang melemah. Sebab perusahaan minimarket bersentuhan langsung dengan masyarakat menengah ke bawah. Namun dirinya tidak memiliki data berapa penurunan penjualan di segmen minimarket.

“Yang berhubungan langsung dengan konsumen di bawah itu minimarket, seperti Indomaret dan Alfamart. Mereka yang merasakan langsung orang punya duit apa enggak,” tambahnya.

Karena daya beli masyarakat yang dianggap yang menjadi penyebabnya, Tutum berharap pemerintah bisa mencarikan solusinya. Ada dua hal besar yang disarankannya, seperti menambah lapangan pekerjaan secara instan.

Kemudian menjaga harga komoditas yang menjadi bahan baku produk. Selain itu memberikan insentif serta menurunkan suku bunga agar produsen makanan dan minuman bisa menekan laju harga.

“Daya beli masyarakat itu dipengaruhi dari harga produknya. Jika produknya mahal lalu masyarakat uangnya sedikit ya daya belinya melemah. Kalau uang masyarakat sedikit tapi harga produk murah, daya beli tetap ada,” tukasnya. (dna/dna)



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *