Pencapaian Jokowi di Bidang Kesehatan, Terus Semangat Menyamai Jepang


Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia menjadi salah satu prioritas Jokowi dalam memimpin pemerintahan. Salah satu komponen kualitas hidup adalah kesehatan. Kinerja Pak Jokowi harus terus ditingkatkan dan didukung oleh seluruh jajaran pemerintah dan rakyat Indonesia agar rapor di bidang kesehatan lebih baik dari rapor saat ini.

World Health Organization (WHO) tahun ini sudah merilis World Health Statistics (Statistik Kesehatan Dunia) 2017 yang berisi data terkait kesehatan dari negara-negara anggota WHO yang jumlahnya 194. Statistik Kesehatan Dunia 2017 ini disusun terutama dengan menggunakan publikasi dan database yang diproduksi dan dikelola oleh WHO atau kelompok milik Perserikatan Bangsa-Bangsa dimana WHO menjadi anggota, seperti UN Inter-Agency Group for Child Mortality Estimation (IGME). Kita dapat membandingkan Indonesia dengan negara-negara lain dalam berbagai kriteria. Dalam tulisan ini kita akan membandingkan dalam 3 hal terkait kesehatan: usia harapan hidup, rasio kematian ibu, dan tingkat kematian anak berusia kurang dari lima tahun.

Bayangkan ada kelas yang terdiri dari 10 negara, dan kita akan melihat perbandingan Indonesia dengan sembilan negara lainnya. Negara lain yang saya pilih dalam kelas imajiner ini adalah Belanda, Inggris, Portugis, Rusia, Tiongkok, Jepang, Turki, Australia, dan Amerika Serikat. Dari sisi jumlah penduduk maka Indonesia ada di peringkat 3 (lihat Tabel 1), setelah Tiongkok dan Amerika Serikat. Australia, Belanda, dan Portugis berturut-turut menempati posisi 8, 9, dan 10.

Usia harapan hidup (ketika dihitung sejak lahir) tertinggi diraih oleh Jepang yaitu 83,7 tahun (lihat Tabel 1). Indonesia menempati posisi paling akhir dengan usia harapan hidup 69,1 tahun. Banyak faktor yang mempengaruhi usia harapan hidup seseorang. Merokok, tekanan darah tinggi, peningkatan kadar glukosa darah, dan kelebihan berat badan dan obesitas saat ini dianggap sebagai empat hal utama yang dapat mengurangi usia harapan hidup seseorang (Danaei, dkk; 2010). Keempat hal ini adalah faktor risiko yang dapat dimodifikasi, sehingga dengan perubahan perilaku kita dapat mengharapkan peningkatan usia harapan hidup.

Pak Joko Widodo sudah melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan terkait merokok: menjadi teladan untuk tidak merokok. “Jangan merokok, tinggalin, merokok itu satu pun enggak ada manfaatnya,” kata Jokowi beberapa waktu lalu. Teladan dan pesan tak akan membawa perubahan jika kita hanya mengangguk menyetujui tapi tak berani menegur perokok yang masih bisa dijumpai di area publik.

Hipertensi, diabetes mellitus, serta berat badan berlebih juga tak pernah muncul di berita sebagai penyakit yang diderita Presiden Jokowi. Banyak yang masih beranggapan bahwa penyakit-penyakit tersebut adalah penyakitnya orang kaya, orang tua, atau orang kaya yang sudah tua. Padahal penyakit-penyakit tersebut sangat erat kaitannya dengan gaya hidup (pola makan, kecukupan tidur, aktivitas fisik, tingkat stres psikis, dll). Gaya hidup yang kita jalani sejak lahir, bahkan sejak dari kandungan ibu, akan terus terekam dan membawa dampak bertahun-tahun kemudian. Perubahan gaya hidup harus dimulai sesegera mungkin, sebelum semuanya terlambat.

Pak Jokowi telah menjadi teladan dalam bergaya hidup sehat. Beliau rajin blusukan bahkan beberapa kali tertangkap kamera menggunakan sepatu olah raga, ini harusnya memotivasi kita untuk memiliki aktivitas fisik yang cukup. Pemberian sepeda kayuh sebagai hadiah juga menjadi pendukung gaya hidup sehat yang dipromosikan Pak Presiden kita. Pola makan Jokowi juga seharusnya membuat kita belajar setidaknya 2 hal penting: makan beragam dan bersantap dengan syukur. Jokowi tidak merepotkan ajudannya (dan orang lain) terkait makanan. Sering ditemukan di berita bahwa Jokowi makan di rumah makan yang tidak mewah dan dengan perlakuan yang wajar tanpa aturan protokoler yang berlebihan. Bahkan beberapa orang mengenang betapa mereka bisa menyaksikan Sang Presiden makan dengan lahap dan tampak bahagia.

Tingkat stres psikis seorang presiden tentu lebih berat dari rakyatnya. Pencapaian Jokowi adalah memberikan contoh bahwa kita perlu untuk terus tersenyum dalam menghadapi hidup ini dan permasalahannya. Senyum Pakdhe Jokowi mudah ditemukan dalam kesempatan apapun. Sekalipun tampak lelah, senyum Pakdhe tetap tampak tulus dan tak dibuat-buat. Alami. Saya pikir justru karena sudah terbiasa murah senyumlah maka Pakdhe Jokowi lebih mudah mengelola stres psikis yang dihadapinya.

Pola tidur Presiden kita mungkin terganggu oleh berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia. Namun kantung matanya jarang kentara menunjukkan kekurangan tidur. Ditambah lagi badan Presiden kita yang tak tergolong tambun. Lengkap sudah contoh yang diberikan Jokowi terkait gaya hidup sehat pada rakyatnya. Jadi kita harus mengejar ketertinggalan kita dari Jepang dengan tidak merokok dan melakukan hal-hal lain yang termasuk dalam gaya hidup sehat.

Jepang juga menjadi juara di rasio kematian ibu tiap 100.000 kelahiran hidup. Di Jepang rasionya hanya 5 kematian ibu tiap 100.000 kelahiran hidup, sedangkan Indonesia menempati posisi ke 10 dengan 126 kematian ibu tiap 100.000 kelahiran hidup (lihat Tabel 2). Rujukan yang terlambat adalah salah satu penyebab utama tingginya kematian ibu melahirkan (Sumarni, 2014). Pencapaian Jokowi dalam mengatasi hal ini sudah banyak dan tak hanya langsung di bidang kesehatan. Tenaga kesehatan disebar ke berbagai daerah yang membutuhkan dalam program Nusantara Sehat. Salah satu prestasi yang menonjol justru di bidang transportasi. Dengan dibukanya akses yang memadai ke daerah-daerah yang selama ini sulit dijangkau diharapkan dapat menekan angka kematian ibu. Ibu di pedalaman juga difasilitasi untuk mendapatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dengan disiapkan rumah tunggu. Rumah tunggu ini dipakai ketika ibu sudah mendekati tanggal perkiraan melahirkan, menjadi tempat tinggal sementara agar ketika proses bersalin sudah dimulai sang ibu tak perlu jauh-jauh menuju sarana pelayanan kesehatan. Infrastruktur justru memegang peranan penting dalam mengejar ketertinggalan kita dari negara lain.

tabel 2 jokowi yoseph

Jepang kembali menjadi juara pada tingkat kematian anak berusia di bawah 5 tahun (balita) tiap 1000 kelahiran hidup. Di Jepang dilaporkan hanya 2,7 kematian balita tiap 1000 kelahiran hidup, sedangkan Indonesia menempati posisi ke 10 dengan angka sepuluh kali lipatnya yaitu 27,2 kematian balita tiap 1000 kelahiran hidup (lihat Tabel 2). Melahirkan anak tentu diikuti dengan kewajiban untuk membesarkannya dengan baik. Jangankan untuk mencapai usia 5 tahun, terkadang untuk mencapai ulang tahun pertama saja membutuhkan begitu banyak usaha. Sumbangsih terbesar pemerintah yang dipimpin Pak Jokowi adalah dengan memberikan semangat juang melalui revolusi mental. Hal ini membuat para orang tua menjadi orang tua yang berdaya juang tinggi untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya, bukan menjadi orang tua yang cengeng. Secara pribadi Pak Jokowi sudah mempraktekkan dan bahkan buahnya dapat kita lihat pada kehidupan anak pertama Pak Jokowi. Ketika Pak Jokowi memiliki cucu pertama, Mas Gibran dan Mbak Selvi menjadi orang tua yang bertanggung jawab dengan memberikan imunisasi pada anaknya dengan membawanya ke sarana pelayanan kesehatan. Ini karena Pak Jokowi mengetahui pentingnya imunisasi bagi kehidupan anak terutama di usia dini. Kini dengan makin mendekatnya pelaksanaan program imunisasi MR (measles/campak dan rubela) kita juga wajib mendukung hal yang baik ini agar anak Indonesia tetap sehat dan kelak menjadi generasi emas yang membawa Indonesia ke tingkat yang tak kita bayangkan sebelumnya. Kelak kita akan menyamai Jepang, bahkan melampauinya.

#JokowiUntukIndonesia

Salam sehat dari saya.

indonesia sehat

Sumber:

World health statistics 2017: monitoring health for the SDGs, Sustainable Development Goals. Geneva: World Health Organization; 2017. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO.

Danaei G, Rimm EB, Oza S, Kulkarni SC, Murray CJL, et al. (2010) The Promise of Prevention: The Effects of Four Preventable Risk Factors on National Life Expectancy and Life Expectancy Disparities by Race and County in the United States. PLOS Medicine 7(3): e1000248.

Sumarni. (2014) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kematian Ibu di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Periode Tahun 2009-2011. Bidan Prada: Jurnal Ilmiah Kebidanan 5(1):52-62.

 



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *