Surat Buat Mendikbud, Jangan Remehkan Kasus Bullying Pak!


Mendikbud Muhadjir Effendy (Tribunews)

Awal tahun 2016, Presiden RI Pak Jokowi sudah menyoroti kasus bullying secara serius dan meminta semua pihak mencegah dan menangani masalah bullying. Bahkan Pak Jokowi meminta secara khusus Mendikbud yang waktu itu masih dijabat oleh Anies Baswedan untuk gencar mengampanyekan anti bullying atau perundungan di sekolah. Saya sebagai pemerhati pendidikan sejauh ini belum melihat realisasi kebijakan dari Pak Anies sebagai Mendikbud pada saat itu dalam menindaklanjuti soal seruan kampanye gencar anti bullying di sekolah, eh beliau sudah keburu lengser dan lebih gencar kampanye untuk di Pilkada…

Ironisnya Mendikbud saat ini yaitu Pak Muhadjir Effendy kembali mengikuti jejak yang sama dalam merespon kasus bullying. Ini menjadi potret suram dari wajah pendidikan di Indonesia. Bayangkan beliau sebagai pejabat nomor satu dalam bidang lembaga pendidikan di Indonesia menunjukkan respon yang tidak serius ketika menangggapi kasus bullying yang baru-baru ini terjadi baik di kalangan siswa di Jakarta.

Pak Muhadjir Effendy hanya merespon bahwa kasus bullying itu sebagai ‘kasus musiman’ yang hanya terjadi pada saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) atau dulunya dikenal sebagai Masa Orientasi Siswa (MOS). “Ini biasanya musiman. Musim saatnya senior untuk menunjukkan ini loh saya senior, ditunjukkan pada juniornya, itu loh. Kadang-kadang over acting, kadang-kadang melampaui batas kewajaran,” tambah Muhadjir seperti dilansir Kompas.

Menganggap bullying hanyalah kasus musiman berarti menganggap kasus ini sangat remeh karena dianggap hanya terjadi setahun sekali yaitu hanya awal tahun ajaran saja. Kalau sudah selesai MPLS atau masa orientasi di awal tahun ajaran berarti masalah bullying sudah selesai. Padahal tidak, justru itu baru awal. Namanya bullying itu tak hanya terjadi di awal tahun ajaran tapi bisa terjadi di sepanjang tahun ajaran sekolah!

Amat disesalkan pernyataan Pak Muhadjir Effendy yang seolah tidak pernah melihat kasus-kasus bullying yang begitu menyeruak di sekolah-sekolah di tanah air. Data KPAI saja menunjukkan bahwa gejala bullying justru mengalami peningkatan dari tahun ke tahunb seperti dilansir oleh KPAI.

Justru karena peningkatan kasus bullying ini akhirnya menarik perhatian Pak Jokowi yang sempat menggelar rapat terbatas awal tahun lalu guna membahas masalah bullying dengan Mendikbud, Jaksa Agung, Kapolri dan BNN bersama dengan Kepala Staf Kepresidenan. Pak Muhadjir tampaknya tidak belajar dari sejarah dan gagal menangkap kode keras pak Jokowi yang ingin bullying ditangani secara serius!

Kekeliruan dari Mendikbud berikutnya adalah menganggap bahwa pengawasan sekolah selama ini sudah berjalan baik.  Ia mengatakan, selama ini mekanisme pengawasan terhadap siswa didik sebenarnya sudah berjalan dengan cukup baik. “Selalu saja memang ada kejadian di luar perhitungan kita, dan nanti akan kita tangani,” kata Muhadjir seperti dilansir Kompas.

Dari mana data yang dipakai Mendikbud untuk menunjukkan bahwa masalah bullying sudah tidak pernah terjadi lagi? Pada tahun 2015, LSM Plan International dan International Center for Research on Women (IRCW) melakukan riset terkait bullying. Hasilnya, terdapat 84% anak di Indonesia yang mengalami bullying di sekolah. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia seperti dilansir oleh Liputan6.com. Ini jelas datang yang mencengangkan tapi sekaligus menyedihkan.

Sebagai seorang cendekiawan atau intelektual, Mendikbud harusnya memiliki atau menguasai data yang valid alias kekinian khususnya yang berkaitan dengan kasus ini sebelum membuat pernyataan di media. Kalau beliau tidak tahu sama sekali data ini alangkah memalukannya beliau. Atau bisa jadi Mendikbud tahu data ini tapi hendak menunjukkan pencitraan seolah kasus bullyingdi Indoensiatelah berkurang secara drastis. Tapi ya lagi-lagi tetap harus ada datanya dong Pak!

Jika pengawasan di sekolah benar-benar berlangsung baik seperti yang diungkapkan Mendikbud maka tetap tidak akan menjamin kasus bullying benar-benar bakal hilang atau tidak akan terjadi lagi. Banyak kasus bullying yang seringkali luput dari pengawasan sekolah karena para pelaku pasti tidak bodoh, mengumbar langsung tindakannya ke banyak orang.

Jika Mendikbud tidak meralat pernyataannya atau tetap menunjukkan respon yang biasa-biasa saja terkait kasus bullying ini maka alangkah menyedihkannya beliau. Mendikbud Muhadjir Effendy akan mengikuti jejak dari sang mantan Mendikbud sebelumnnya yang tidak menunjukkan respon serius dalam pencegahan dan penanganan bullying. Padahal Pak Jokowi sudah memberi sinyal keras tentang bahaya bullying ini yang selalu disorotinya dari tahun ke tahun. Akankah Mendikbud Muhadjir akan mengikuti jejak sang mantan Pak Anies Baswedan?

Baca juga :

Sajak :
        # Tawuran di Jakarta, Bukti Kekerasan Ini Sulit Dibasmi?
        # Surat Buat Guru Menyambut Tahun Ajaran Baru Sekolah
        # Surat Buat Mendikbud, Belajar dari Ki Hadjar Dewantara, Pentingnya Pendidikan Kebangsaan!
        



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *