Jokowi Mengajarkan Cara Menjadi Ayah Di Fatherless Country


Saya terharu melihat seorang teman mengunggah fotonya saat sedang main bersama ke-dua anaknya. Unggahan gambar lain adalah fotonya sedang memasak, mempersiapkan sarapan buat keluarganya. Temanku yang mengunggah foto itu adalah seorang ayah dari seorang puteri dan seorang putera. Sehari-hari ia sibuk sebagai seorang pekerja di perusahaan swasta. Istrinya seorang pengajar di sebuah kampus swasta. Di tengah kesibukan sehari-hari, temanku senantiasa meluangkan waktu bagi anak-anaknya. Maka tidak heran sekalipun sibuk, ia selalu menyempatkan waktu bermain, memasak, membersihkan rumah bersama istri dan anak-anaknya.

Melakukan pekerjaan rumah, main bersama anak-anak seringkali dianggap tabu bila dilakukan oleh seorang laki-laki. Stereotype yang sering terdengar adalah: bekerja mencari uang itu tugas ayah. Mengurus rumah tangga seperti mengasuh anak, membersihkan rumah, mempersiapkan makan itu adalah tugas ibu. Figur ayah ditampilkan sebagai sosok yang sehari-hari di luar rumah. Jika ia kembali ke rumah, ayah harus dilayani, harus dimengerti, didengarkan. Alasannya adalah: ayah sudah capek bekerja untuk mencari uang. Tanpa uang keluarga seolah kehilangan kebahagiaan. Apalagi di tempat kerja si ayah mempunyai kedudukan tinggi, kedudukan tinggi itu masih di bawa hingga ke rumah. Karena itu ketika ayah di rumah, teh mesti harus dibuatkan, makan diambilkan, pakaian disiapkan. Ketika ada seorang ayah membantu ibu memasak, mencuci baju, bersih-bersih rumah mendapat cap sebagai “ISTI” alias Ikatan Suami Takut Istri. Stereotype macam ini sudah berlangsung bertahun-tahun, turun temurun  dan melanggengkan budaya patrialkal.

Ketika sosok atau figur ayah tidak ada di rumah, muncullah masalah yaitu fatherless Children. Fatherless adalah ketiadaan peran dan figur ayah dalam kehidupan seorang anak. Ketika salah satu dari kedua orang tua tidak hadir di hati anak, terjadilah ketimpangan dalam perkembangan psikologis anak/anak-anak. Kepribadian, kesehatan mental dan pertahanan diri dari stress akan terasa sulit ditangani oleh anak yang tidak mendapati pengasuhan, kasih sayang, waktu berkualitas dari kedua orangtuanya.

Arie Rihardini dan Febi Herdajani menuliskan dampak-dampak fatherless dalam makalah berjudul dampak fatherless terhadap perkembangan psikologis anak. Membaca tulisan mereka, saya merinding dan membayangkan betapa mengerikannya fatherless itu. Ketiadaan peran-peran penting seorang ayah akan berdampak pada rendahnya harga diri (selfesteem), adanya perasaan marah (anger), malu (shame) perasaan kesepian (loneliness), kecemburuan (envy), kedukaan (grief), kehilangan (lost) yang amat sangat, rendahnya kontrol diri (selfcontrol), inisiatif rendah, keberanian mengambil resiko (risk taking) rendah dan kecenderungan memiliki neurotik.

Tahun lalu (2016) Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyerukan perlunya ayah kembali ke rumah. Beliau menyampaikan bahwa Indonesia termasuk sebagai salah satu fatherless country. “Perlu diketahui bahwa anak-anak Indonesia nomor dua dengan kondisi fatherless. Makanya kehadiran ayah harus lebih diintensifkan untuk menyapa anak-anaknya,”. Seruan agar ayah kembali ke rumah perlu ditanggapi secara serius. Tidak ada kata lain selain sekarang juga mengingat rumah adalah tempat pembentukan kehidupan yang pertama dan utama.

Sebagai bangsa Indonesia, kita bersyukur karena presiden RI ke-7 Joko Widodo memberikan teladan menjadi seorang ayah. Bagi putra-putri di rumahnya peran sebagai ayah ditampilkan dengan baik. Sekalipun ia seorang dengan kedudukan tinggi di negeri ini namun kedudukan itu tidak membuatnya lupa bercanda, bermain, berlibur bersama keluarganya. Melalui media sosial kita melihat bagaimana Jokowi bercanda dengan Kaesang. Di antara mereka tidak ada jarak pemisah ayah dan anak. Jokowi tidak “jaim” dan Kaesang tidak takut mengejek ayahnya. Ketika suatu saat Jokowi melakukan lawatan kenegaraan ke  Turki – Jerman, beliau mengajak keluaganya dengan biaya sendiri. Tentu saja dalam kunjungan kenegaraan, Jokowi tidak akan membawa anak-cucunya dalam diplomasi kenegaraan. Sayang ada yang nyinyir. Apakah salah mengajak anak-cucu berlibur sekalian lawatan kenegaraan? Sebagai ayah, suami, kakek, Jokowi punya hak untuk membahagiakan keluarga.

Hari ini di hari anak Nasional, Jokowi dan ibu Iriana mengajarkan kepada Bangsa Indonesia yang dicatat sebagai fatherless country untuk bercengkerama akrab dengan anak-anak. Bercengkerama akrab dengan anak-anak sebenarnya tidak hanya kali ini saja. Lihat, dalam berbagai kunjungan ke daerah-daerah, Jokowi mengajak anak-anak berdialog. Hal ini jarang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya. Ketika SBY menjabat sebagai presiden dan melihat anak-anak mengantuk saat beliau berpidato, anak-anak itu ditegur. Aduh…. Kasihan sekali anak-anak itu. Di zaman Pak Harto yang sering mesem itu, memang sering ada percakapan dengan anak-anak. Namun anak-anak yang hendak mengajukan pertanyaan bukanlah pertanyaan yang mereka buat sendiri sebab istana sudah menyiapkan pertanyaan dan anak-anak membacakan pertanyaan di hadapan pak preseiden yang “mesam-mesem” itu.

Bagi saya ketika Jokowi mengajak anak-anak berdialog dengan jujur, ia sedang melakukan upaya simbolik untuk mengajak para ayah kembali ke rumah. Ia menyerukan bahwa bermain, bercanda, berdialog, memasak, makan, merayakan kehidupak keluarga bersama-sama. Secara simbolik, Jokowi seperti mengatakan: mari kita bangun Indonesia dan jadikan negeri ini kuat dengan memulainya dari dalam keluarga.

Piye, masih ragu menyebut Jokowi sebagai ayah dan pemimpin yang hebat?

 

Sumber:

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/08/24/oced5t328-mensos-minta-ayah-indonesia-kembali-ke-rumah

http://sijoripost.com/news/presiden-jokowi-diajak-bermain-ular-tangga-bersama-anak-anak.html

http://news.liputan6.com/read/3032257/jokowi-hadiri-peringatan-hari-anak-nasional-2017-di-pekanbaru

Arie Rihardini dan Febi Herdajani, proseding seminar nasional parenting.



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *