Dakwah Berseri-seri dari Kawah Sileri


Istilah ‘dakwah’ berasal dari bahasa Arab: دعوة‎, da‘wah, yang artinya “ajakan”. Sebagai sebuah kegiatan, dakwah memang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah. Itulah, alangkah dakwah memang membuat agama kelihatan megah dan terkesan wah.

Maklumlah, bila oleh hampir semua agama, dakwah diberi tempat terhormat demi eksistensi agama di tengah-tengah kancah pergulatan dunia. Apalagi, pada dasarnya dakwah memang memiliki tujuan yang sangat mulia. Supaya manusia taat kepada Allah Sang Pencipta. Maka jangan heran bila kegiatan dakwah dilakukan dengan berbagai cara lewat berbagai media.

Karena dakwah dari berbagai agama banyak membanjiri media, mungkin saja membuat orang begitu tergila-gila selalu ingin menerima dakwah yang berguna. Sebuah dakwah yang membuat jiwa makin menengadah mendamba berkah dari Allah. Dakwah yang sungguh berbuah karena membuat hati dekat pada Allah.

Namun, mungkinkah dakwah dilakukan selain oleh agama? Mungkin saja. Asalkan pengertian dakwah dipahami secara luas. Seluas cara berpikir yang dari sononya seluas samudera. Sebuah gaya berpikir yang memang tidak sempit. Dakwah dalam arti luas adalah membawa orang dekat dan taat pada Allah Sang Pencipta alam semesta. Nah, selain agama, siapakah yang bisa menjadi pelaku dakwah?

Alam. Selain penuh misteri, alam semesta adalah pelaku dakwah yang paling arif dan bijaksana. Alam ketika berdakwah tidak pernah menyinggung suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Alam punya bahasa universal ketika berdakwah. Karena alam selalu mengedepankan nilai-nilai yang tidak pandang bulu agama.

Seperti apakah ketika alam berdakwah? Contoh unik ketika alam berdakwah dijelaskan Mbah Rono, seorang pakar Geologi ketika menarasikan letusan freatik kawah Sileri di kompleks Gunung Dieng, Minggu (2/7/2017) siang pukul 12.00 WIB. Akibat letusan itu 10 wisatawan terkena samburan lumpur.

Melalui pesan yang disampaikan tertulis pada wartawan, Mbah Rono mengatakan bawasanya sebelumnya telah ada rekomendasi dari instansi terkait untuk tidak beraktivitas dalam radius 100 meter dari Kawah Sileri. Mbah Rono menyayangkan kurang respeknya pengelola dan wisatawan atas rekomendasi tersebut.

Melalui pesan itu, Mbah Rono memahami saat-saat alam hendak berdakwah. Alam tidak rakus waktu. Alam mengenal waktu sakral ketika hendak berdakwah. Menariknya, alam mempersilahkan orang seperti Mbah Rono untuk membaca ritme atau irama waktu berdakwahnya. Tak ayal, ketika sudah tiba waktunya, manusia mesti menghormati waktu bagi alam untuk menyampaikan pesan dakwahnya. Dari Mbah Rono, kita bisa belajar tentang cara dan isi dakwah alam. Demikian pesan Mbah Rono selengkapnya, seperti dilansir krjogja.com.

Yang perlu kita catat adalah bahwa telah ada rekomendasi agar tidak beraktivitas dalam radius 100 merer dari Kawah Sileri, di komplek G. Dieng. Seharusnya pengelola semua pihak menghormati itu dan pihak yang berwenang memasang rambu di pintu masuk para pengunjung khususnya yang masuk Kawah Sileri untuk memberi peringatan agar wisatawan tidak masuk dalam radius 100 meter dari Kawah Sileri. 

Rekomendasi bukan untuk menghalangi wisatawan menikmati keindahan Kawah Sileri (dan seluruh kawah di kopkek G. Dieng), tapi agar aktivitas wisatawan tetap berlangsung, namun ada jaminan keamanan wisatawan dari ancaman erupsi Kawah Sileri. Kadang keliru pemahaman kawasan rawan bencana dianggap menghalangi wisatawan, itu TIDAK BENAR karena daerah rawan bencana itu hak gunungapi untuk mendapat ruang ekspresi diri dan hak masyarakat untuk mengetahui agar dapat beraktivitas dengan aman.

Mari kita menghormati hak-hak alam, bila kita ingin dihormati juga.”

Dari Sileri ada dakwah yang berseri-seri. Ada luapan kegembiraan kawah Sileri yang perlu dihormati. Itulah cara Sileri berekspresi mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Penciptanya. Maka jangan memandang erupsi kawah Sileri sebagai kemarahan. Itu adalah cara dakwah kawah Sileri untuk meluapkan kegembiraan dan ucapan syukur. Ada energi alam yang perlu dilihat dan dipahami oleh ciptaan lain yang berakal budi, yakni manusia.

Dakwah kawah Sileri yang berseri-seri mengundang manusia untuk saling menghormati. Caranya, ya ingat saja peringatan dini dan rekomendasi untuk dipatuhi. Jangan langgar waktu sakral Kawah Sileri. Hormati tempat sakral kawah Sileri yang disebut sebagai Kawasan Rawan Bencana (KRB).

Dakwah kawah Sileri nyata-nyata sebuah ajakan untuk hidup saling menghormati dan menghargai. Inilah jiwa toleransi. Dakwah kawah Sileri jelas mampu menjadi guru bagi agama-agama untuk saling menghormati dan menghargai. Masing-masing agama punya waktu dan tempat sakral. Hanya satu kata yang dipesankan kawah Sileri ketika berdakwah: hormatilah!

Dari kawah Sileri ada dakwah yang benar-benar membuat mata hati berbinar dan wajah berseri-seri. Dakwah yang memupuk semangat toleransi dan berjiwa Pancasila. Sudah tidak relevan lagi bila di bumi Pancasila ada aksi ormas yang merusak tempat ibadah dan situs bernilai sejarah. Aksi semacam itu adalah tindakan kebodohan tanda insan yang tidak beradab. Lagi pula, orang tidak beradab itu dekat dengan azab.

Dari Sileri, ada pesan bagi agama-agama supaya saling mengenali waktu dan tempat sakral untuk dihormati bersama-sama sehingga wajah Ibu Pertiwi selalu berseri-seri.



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *