Rindu Ramadhan, Dari Seorang Non Muslim


sumber : internet

Saya pribumi asli, suku Jawa, dilahirkan dari keluarga sederhana, kami enam bersaudara, masa kecil kami lewati dengan bahagia walaupun hidup seadanya, ayah dan ibu seorang penganut Katolik, kami dari kecil sudah dididik secara Katolik. Ini ungkapan hati saya dan kenangan saya tentang bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan saat yang tepat bagi kaum muslik untuk membersihkan hati dan menyatukan dan mendekatkan diri dengan Yang Maha Esa.

Dulu sekali waktu saya masih kecil tahun 70an, saya dan teman-teman sepermainan, yang hidup dikompleks perumahan pegawai negeri suka sekali ngumpul di masjid, saya bahkan tidur dimasjid dan ikut kawan-kawan membangunkan orang-orang untuk bersahur. Tidak ada sekat-sekat diantara kami, teman-teman saya tahu kalau saya setiap hari Minggu ke gereja, tapi mereka tetap memperlakukan saya sama dengan mereka. Ramadhan adalah saat yang membahagiakan bagi kami, setiap sore menunggu teman-teman berbuka puasa saya diajak jalan-jalan atau ngabuburit, kami berjalan kepasar yang lokasinya cukup jauh dari rumah kami, saya ikut karena diajak, dipasar mereka membeli batu es dan sirop merah, saya sudah cukup senang walaupun saya tidak ikut membeli. Saat berbuka puasa teman-teman saya itupun tidak lupa memberi saya es sirop merah yang kita beli bersama-sama itu. Sayapun selalu diajak teman-teman untuk bertaraweh keliling kampung, membawa bedug, dan puncaknya sewaktu hari raya lebaran setelah sholat Ied mereka datang kerumah saya untuk mengajak putar-putar keliling kampung dari rumah-kerumah, mengumpulkan permen, senang rasanya hati kami.

Saya ingat akhir tahun 70an ibu saya yang memang pintar masak mencoba untuk menambah penghasilan keluarga dengan  berjualan makanan kecil atau takjil di bulan Ramadhan, hasilnya amat lumayan laris dan lumayan buat menambah penghasilan keluarga.  Tapi saat kami sudah besar-besar saya pernah bertanya pada Ibu kenapa tidak berjualan makanan lagi seperti dulu, Ibu bilang tidak ada yang mau beli karena kita non Muslim, lo bukannya dulu ramai bu, Ibu bilang jaman sudah berubah sekarang, sekarang umat Muslim banyak larangannya.  Saya tidak pernah berpikir siapa yang melarang mereka dan kenapa dulu tidak.

Usia SMP dan awal masuk SMA, saya merasakan ada perubahan, rekan-rekan dan keluarga yang dulu biasa datang pada saat hari Natal ternyata tidak datang. Masih ada yang datang beberapa keluarga saja.

Saat itu saya hanya membatin saja, kenapa mereka tidak seperti dulu lagi, padahal kami tetap mengunjungi mereka saat hari raya lebaran.  Mulai saat itu saya tidak pernah lagi mendengar ucapan selamat hari raya Natal dari keluarga lain atau dari teman-teman yang lain. Semakin lama kelihatannya semakin tebal saja tembok diantara kita, dan saya tidak mengerti apa masalahnya. Bagi saya yang non Muslim, tidak masalah memnberikan ucapan selamat apapun karena tidak akan mengubah keyakinan saya. Berbagi kebahagiaan adalah hal yang baik.

Akhirnya saya semakin besar dan semakin dewasa, saatnya menikah dan membangun keluarga, saat anak-anak mulai lahir dan bertumbuh kembang, saya lihat tidak ada lagi kebersamaan itu, kelihatan selain tembok sudah ada jurang diantara kita. Entah kenapa pergaulan seolah-olah dibatasi, kami saya dan isteri tidak pernah membatasi pergaulan anak, kami biarkan mereka bergaul dengan semua orang. Kebiasaan kami mengunjungi teman saat Lebaranpun tetap kami jalankan, walaupun mereka tidak pernah datang ketempat kami saat Natalan, kami tetap berbesar hati, mungkin memang jaman sudah berubah. Mungkin pemahaman agama mereka berbeda dengan orang tua mereka dulu, mungkin. Sedih rasanya tidak bisa berbagi kebahagiaan dengan anak-anak saya, sedih rasanya anak-anak sudah tidak bisa merasakan kebersamaan dalam hidupnya.

Setelah dewasa kami yang enam bersaudara itu, menempuh panggilan hidupnya masing-masing, kakak pertama seorang Katolik, kakak kedua Muslim dan sudah naik haji tahun ini, kakak ketiga Katolik, kakak kempat Muslim, saya Katolik dan adik saya Muslim, saya juga heran kenapa bisa berselang-seling seperti itu. Hanya Tuhanlah yang tahu. Kami walaupun berbeda kepercayaan tetap kompak sebagai satu keluarga, anak-anak kami saling menghargai satu sama lain.

Kenangan akan masa kecil saya itu, rapat saya simpan dan akan menjadi cerita pengantar tidur yang indah buat cucu-cucu saya nanti. Dengan harapan agar di masa depan bisa terjadi lagi bisa terulang lagi, bisa dibongkar lagi tembok yang tebal dan membangun jembatan untuk jurang yang dalam itu. Kami minoritas ini tidak bisa berbuat banyak, kami hanya bisa berdoa semoga bulan Ramadhan membawa berkah bagi semua dan supaya saudara kami kaum Muslim bisa menunaikan ibadah Puasanya dengan khusyu. Kami juga hanya bisa berdoa semoga kami masih dibukakan pintu saat kami ingin mengucapkan selamat hari raya Lebaran.

Biarlah kerinduan saya itu menjadi kenangan indah bagi saya, sambil berdoa supaya kelak bisa terulang kembali. Selamat menjalankan ibadah Puasa para sahabat, kiranya Tuhan memberi kekuatan dan berkah agar bisa menyambut hari kemenangan di hari Raya nanti, agar Ramadhan bisa menjadi kebahagiaan kita bersama.

#ArtiRamadhan



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *