Mengapa Ahok-Djarot Bisa Menang Di Angka 54 Persen ?


Bang Birgaldo mengapa abang yakin Basuki Djarot menang 54 persen?

Begitu pesan inbox seorang teman setelah membaca tulisan saya pada Sabtu, 15 April 2017. Baca di sini https://seword.com/politik/serangan-pamungkas-perang-kota-bakal-menangkan-ahok-djarot-54-persen-suara/.

Beberapa hari lalu, sebelum SMRC merilis hasil surveinya saya telah menulis kajian analisis saya bahwa Basuki -Djarot akan menang melawan Anies-Sandi. Alasannya tidak pernah calon gubernur Jakarta bisa menang karena bermain isu SARA. Apalagi ingin menjadikan Jakarta Bersyariah. Baca di sini tulisan saya pada 13 April 2017 https://seword.com/politik/penyebar-radiasi-racun-sara-pilkada-jakarta-akan-kalah/.

Dua hari lalu, SMRC merilis paslon Basuki-Djarot sedikit dibawah minus satu persen dibanding lawannya Anies-Sandi. Selisihnya hanya minus satu persen, beda tipis 46 : 47. Untungnya selisih ini tidak menjadi barometer bahwa lawan Basuki-Djarot akan unggul pada hari pencoblosan.

Pasalnya survei SMRC tersebut merefleksikan peta suara pemilih Basuki Djarot trendnya naik, sementara lawannya statis bahkan cenderung turun. Jika tidak ada perubahan yang signifikan, seiring waktu kurva trend Basuki Djarot akan terus menaik di sisa waktu kampanye dan masa tenang tiga hari ini.

Artinya titik singgung kurva elektabilitas Basuki-Djarot dan Anies-Sandi akan bertemu di level 46 persen. Ahok akan terus menaik pada posisi 54 persen sementara Anies Sandi menurun di angka 46 persen. Itu prediksi saya mengapa Ahok-Djarot meraih 54 persen suara.

Kemarin Lembaga Survei Charta Politika merilis hasil survei terbarunya. Hasilnya Basuki Djarot unggul dengan selisih 47.3 % berbanding Anies Sandi 44.8 %. Ada selisih 3 persen suara.

Dari dua hasil lembaga survei kredibel ini, kita bisa membaca pergerakan suara Basuki-Djarot mengalami tren positif. Tren menaik. Sementara Anies Sandi trennya statis cenderung turun. Ada yang naik, otomatis ada yang turun, itu rumusnya.

Mengapa Ahok Djarot berhasil melampaui elektabilitas Anies Sandi yang sempat naik tinggi trendnya?

Politik bukanlah ilmu matematika atau ilmu pasti. Politik tidak punya formula baku dalam menentukan siapa pemenang. Matematika hanya dipakai untuk melihat dan membaca peta dinamika pemilih. Lalu dari sana dibuatkan treatment untuk meraih kemenangan. Mendorong dinamika pemilih itu agar memilih calonnya.

Secara hitung-hitungan matematika, sejatinya Basuki-Djarot itu kalah. Bisa kita lihat wajah Anies-Sandi pada saat quick count putaran pertama terlihat sangat sumringah dan senang sekali. Mereka berpelukan sambil tersenyum lebar. Seakan merekalah pemenang Pilkada DKI 2017. Sementara wajah Ahok-Djarot terkesan datar saja. Tidak ada ekspresi gembira berlebihan padahal merekalah pemenangnya.

Memang benar dari pencapaian hasil putaran pertama itu Anies Sandi lah yang menang secara proporsional. Artinya dari kelompok pemilih muslim Anies Sandi meraih suara terbesar. Ada sekitar 80 persen lebih suara pemilih muslim. Anies Sandi meraih 40 persen, Basuki-Djarot di kisaran 20 persen suara.

Memang Basuki-Djarot unggul dengan agregat 3 persen secara total dari semua pemilih yang mencoblos putaran pertama lalu. Namun mereka sejatinya hanya mampu meraih separuh suara dari kelompok muslim. Artinya dari pemilih kelompok muslim Ahok-Djarot kalah separuh alias hanya meraup 50 persen suara dibanding Anies-Sandi.

Bagaimana bisa Ahok Djarot melompat suaranya? Ada beberapa faktor. Pertama, faktor pemilih Basuki-Djarot cenderung lebih solid. Faktor kedua, adanya dukungan partai pendukung Agus Sylvi putaran pertama lalu seperti PKB dan PPP Romli yang notabenenya partai berbasis Islam yang memberikan dukungannya pada Basuki-Djarot detik-detik terakhir masa kampanye berakhir.


Pemilih Ahok Djarot adalah pemilih solid dibanding pemilih Agus-Sylvi dan Anies-Sandi yang cenderung lebih cair. Pemilih cair mudah bergeser pilihannya. Pemilih cair cenderung ikut-ikutan pada isu yang dikembangkan. Ketika isu itu melempem maka pilihannya bisa berubah. Isu penista agama menjadi isu utama pemilih memilih Anies-Sandi pada putaran pertama.

Seiring waktu, publik semakin tahu bahwa isu penistaan agama hanya isu murahan yang digoreng untuk menjatuhkan Ahok secara tidak fair dan beradab. Publik dengan terang benderang bisa menilai argumentasi saksi-saksi saat dibuka di pengadilan. Keterangan saksi para pendemo Ahok banyak yang tidak berdasar dan jelas. Hanya berangkat pada kebencian dan hasrat mau berkuasa saja.

Putaran kedua ini, suara pemilih Agus-Sylvi akan diperebutkan. Selebihnya sekitar 1-2 persen suara yang berpindah dari pemilih Anies Sandi yang berpindah memilih Ahok Djarot.

Hampir mayoritas dari 18 persen pemilih Agus Sylvi lalu adalah pemilih berbasis muslim. Jika mengacu komposisi perbandingan suara kelompok muslim, Basuki-Djarot sejatinya hanya akan meraih separuh dari perolehan Anies-Sandi.

Artinya jika suara 18 persen pemilih Agus-Sylvi dari kelompok muslim ini terdistribusi merata dengan hitungan komposisi pemilih seperti pada putaran pertama maka Basuki-Djarot hanya meraup 6 persen suara saja. Sedangkan Anies-Sandi 12 persen suara.

Dengan demikian, jika mengacu hitungan matematika itu maka putaran kedua ini akan dimenangkan Anies-Sandi dengan perolehan 52 persen berbanding 48 persen. Itulah alasan mengapa saat kita melihat hasil quick count, dilayar kaca terlihat gesture wajah Anies-Sandi penuh kegembiraan akan kemenangan. Seakan gubernur dan wakil gubernur sudah dalam genggaman. Seakan pilkada sudah usai.

Untungnya politik itu bukanlah matematika. Politik adalah seni meraih kemenangan. Hitungan-hitungan hanyalah corat-coret di atas kertas untuk menjadikan tim termotivasi.

Hasil quick count itu membuat timses Ahok-Djarot langsung berbenah. Strategi dan taktik langsung dievaluasi. Harus berubah jika ingin menang. Jika pada putaran pertama condong ke serangan udara, kali ini strategi berubah drastis langsung serangan darat l. Serangan darat ini dengan kekuatan penuh. Semua sumber daya partai dan relawan dikerahkan. Strategi Perang Kota.

Perang kota adalah strategi terbaru Ahok-Djarot. Ini persis seperti ulasan saya lima hari setelah hasil quick count diketahui, saya menulis agar timses Ahok-Djarot benar-benar pakai strategi perang kota.

Semua tim harus turun ke bawah. Dobrak pintu yang terkunci oleh PKS. Ketuk pintu yang terkunci tim PKS. Perang ke bawah, bukan di atas. Langsung berhadap-hadapan. ini dadaku, mana dadamu. Ini Ahok Djarotku, mana calonmu.

Kepung strategi perang gerilya Eef Saefulah Fatah yang pakai corong pertahanan ASU Line. ASU Line memakai corong mesjid ke mesjid untuk mempropaganda warga. Saban hari toa mesjid di banyak tempat Jakarta berubah menjadi suara bising propaganda. Suara rasis penuh kebencian.

Saya bisa menulis optimisme ini karena ikut turun blusukan hampir setiap hari ke kampung kumuh miskin di gang-gang sempit penduduk Jakarta. Saya ikut menyapa warga bersama tim Bara Badja.

Kami merangkul pemilik suara yang tidak terjangkau medsos. Kami mendengarkan mereka curhat. Mereka warga yang terpinggirkan dan tidak terjangkau. Mereka para lansia yang tergeletak tak berdaya kami bawa ke rumah sakit. Kami antarkan kursi roda agar bisa berjalan keluar rumah menatap mentari. Kami terus bergerak menyasar perkampungan kumuh miskin. Setiap hari tanpa jeda.

Saya tahu seperti apa isu yang digembar-gemborkan di sana. Kampung padat penduduk di bilangan Kerdang Raya misalnya, di sana diisukan akan digusur oleh Ahok. Isu ini disebarkan lawan Ahok untuk menyudutkan Ahok agar warga tidak memilih Ahok-Djarot pada 19 April.

Saya mendengar informasi itu langsung dari warga saat blusukan di sana. Kami lawan propaganda busuk itu dengan memberi informasi yang benar. Kuncinya lawan propaganda di bawah dengan anti propaganda. Lawan dengan bicara langsung ke bawah bukan di medsos dimana mereka tidak punya akses media sosial. Akhirnya warga di sana percaya.

Memasuki masa tenang ini, peta pemilih berubah total. Perubahan ini setelah strategi perang kota dijalankan dengan disiplin dan militansi tinggi. Suara mayoritas pemilih Agus-Sylvi yang mayoritas kelompok bawah dengan cantik elegan dimenangkan Basuki Djarot.

Garis pertahanan ASU Line diterobos. Cagub Djarot pada hari terakhir kampanye bak pendekar tanpa bayangan dengan penuh percaya diri dan tenang masuk ke sarang musuh. Ia tenang dan tersenyum melewati para manusia sok suci yang berteriak kasar memalukan itu. Sesama saudara seiman menistas saudaranya sendiri. Hasilnya nilai seorang Djarot terdongkrak citranya sebagai negarawan. Ini menambah persepsi positif di kelompok muslim.

Maka jika tidak ada kejadian luar biasa yang terjadi, saya haqul yakin Basuki-Djarot akan menang dikisaran 54 persen. Saya yakin itu karena saya ada diakar rumput hampir setiap hari.

Salam Perjuangan
Birgaldo Sinaga



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *