Ahok-Djarot Pasangan Pelayan, Anies-Sandi Adalah Pasangan Makelar


Pilkada DKI 2017 benar-benar menjadi panggung Ahok.  Bagaimana tidak, mungkin hanya Ahok satu-satunya calon gubernur yang di demo jutaan orang, diadili waktu kampanye, sekaligus didukung seluruh bangsa sampai keluar negeri.

Ahok telah menjadi cerita sukses konsep Jokowi : kerja, kerja, kerja. Konsep yang ditentang Anies, tapi terbukti disukai masyarakat Indonesia.  Survey Indo Barometer terbaru (22/3/17) memperlihatkan bahwa pemerintahan Jokowi dianggap berhasil lebih dari 50%.

Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Joko Widodo saat ini sebesar 66,4%, yang tidak puas 32%, dan yang tidak tahu/tidak jawab sebesar 1,6% (sumber)

Data ini semakin diperkuat dengan realitas bahwa meskipun “hanya” menang 43%, 75% menganggap bahwa kerja Ahok bagus.  Hal ini memperlihatkan bahwa rakyat Indonesia sudah muak, mual, sampai mungkin muntah-muntah dengan bualan, nyinyiran, cemohan, dan ocehan-ocehan politisi yang ujung-ujungnya hanya kekuasaan dan uang.  Rakyat Indonesia haus dengan sosok-sosok pemimpin yang lugas, sederhana, tidak kompleks, dan to the point.

***

Temuan Indo Barometer diatas memberikan panggung politik secara tidak langsung kepada Ahok – Djarot. Strategi kerja Anies-Sandi yang tidak mendarat di bumi, tidak akan SELARAS dengan apa yang Jokowi sebagai pemerintah pusat kerjakan.  Sebab itu, bagi pemilih waras dan rasional, memilih Ahok – Djarot adalah opsi yang terbaik untuk DKI.

Apabila tidak, akan terjadi banyak konflik kepentingan, dan proyek-proyek terancam melambat atau bahkan mangkrak karena suhu politik akan semakin tinggi, sekaligus learning curve  (kurva belajar – kecepatan seseorang untuk belajar) dari Anies – Sandi yang tinggi harus dibayar mahal warga DKI dan Indonesia.

Anies – Sandi adalah 2 profesional yang TIDAK PERNAH memiliki pengalaman apapun di birokrasi kota. Anies sebagai Mendikbud hanya memiliki satu tugas, dan hanya mewakili satu departemen fungsional.  Dan itupun “dicukupkan” alias dihentikan Jokowi.

Sandiaga lebih tidak memiliki pengalaman di birokrasi, yang ada hanya pengalaman di Parpol. Itupun “langsung” jadi wakil pembina bukan dari kader.  Artinya, karena Sandi super kaya maka dia bisa langsung lompat jadi politisi.

Dilain pihak, bagaikan bumi dan langit, latar belakang dan rekam jejak Ahok – Djarot hampir sempurna sebagai politisi-birokrat-negarawan.  Ahok dan Djarot benar-benar sudah matang dan makan asam garam  di birokrasi. Ahok menjadi walikota di Belitung, Djarot di Blitar. Dan jangan lupa, keduanya pernah menjadi anggota DPR RI. Artinya, Ahok-Djarot benar-benar menguasai permainan legislatif dan eksekutif luar dalam.

***

Sebagai pemikir-pemikir strategis Anies dan Sandi memiliki kekuatan dibidang masing-masing.  Tapi sebenarnya keduanya memiliki kesamaan, yaitu esensi pekerjaan mereka adalah marketing dan sales.  Kalau Anies menjual gagasan yang menjadi proyek-proyek sosial untuk mendapatkan para donatur, Sandi sebagai investment banker pada dasarnya adalah jualan proyek kesana kemari untuk cari investor.

Bahasa jalannya sebenarnya mereka berdua adalah MAKELAR kelas tinggi.  Dalam bahasa “guyonannya” adalah McClarent.  Skill menjadi makelar bukan berarti bisa dikatakan gampang, tidak bisa serta merta juga dianggap rendah, tapi skill-set mereka kalah jauh dari Ahok-Djarot dalam sistem birokrasi yang sarat kepentingan, politis, sekaligus koruptif.

Saya justru menyarankan Anies untuk memulai karir di legislatif. Kritik-kritik Anies bisa disalurkan lewat memprakarsai Undang – Undang yang bermanfaat bagi manusia Indonesia.  Kemampuan retorika, dan menjual ide sekaligus lobby di DPR sangat dibutuhkan.

Daripada Fadli Zon atau Fahri Hamzah, Anies lebih akan bermanfaat bagi negeri.  Jadi, setelah 19 April 2017, mungkin Anies lewat Gerindra bisa mulai kampanye untuk menjadi anggota DPR RI 2019 mungkin wilayah Aceh tepat sesuai dengan karakteristik relawan-relawan yang sekarang.

Bagaimana dengan Sandiaga Uno? Saran saya, kembali saja ke dunia bisnis dan kembangkan OkOc lewat jalur swasta. Bikin OkOc semacam startup dan bisa dikembangkan ke seluruh kecamatan di Indonesia.  Menjadi partner pemerintah yang baik dan benar disetiap kecamatan dan akan dicatat sejarah sebagai Bapak OkOc sedunia.  Keren habis.

***

Tidak ada gading yang tidak retak, Ahok – Djarot bukanlah tuhan tanpa kelemahan.  Mereka tetap manusia biasa yang banyak kelemahan.  Tapi secara logis, rasional, dan waras, memilih Ahok – Djarot adalah pasangan yang tepat untuk musim ini bagi DKI.

Ahok – Djarot akan mampu menjadi tandem Jokowi menyelesaikan Jakarta sebagai etalase Indonesia Baru. Mereka adalah PELAYAN-PELAYAN rakyat yang fokus melayani dan mengabdi, untuk menyelesaikan tupoksi yang ada.  Mereka sangat sederhana dalam berpolitik, yaitu kerja yang benar.

Dilain pihak, kalau sebagai pembantu presiden Anies tidak bisa sinergi dengan Jokowi, apa yang membuat menjadi Gubernur DKI dia bisa bekerja sama dengan Jokowi?

Sebab itu, bagi para pemilih, relawan, dan pendukung Anies yang cinta Indonesia dan nasionalis, saya yakin kalian mengerti benar apa yang saya coba ungkapkan melalui artikel ini.  Jangan jerumuskan Anies ke tempat yang lebih dalam.

Kenyataan pahit harus diterima, Anies Baswedan ternyata belum siap menjadi pemimpin bangsa, biarkan dia belajar lagi.  Selalu akan ada waktu yang tepat, yaitu waktuNya Tuhan.  Itulah yang disebut Kairos dalam baha Yunani.   Semoga paham.

Pendekar Solo

 

 



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *