Selamat Yah Buat DPR Yang Jadi Lembaga Paling Korup Tahun 2016


Kemarin Jumat, saya kebetulan duduk di sebuah rumah makan dan kebetulan di sana ada koran Kompas. Di bagian depan, ada sebuah judul berita yang sangat menarik perhatian saya, mengenai DPR yang menjadi lembaga paling korup. Sebuah prestasi yang menurut saya membanggakan bagi para koruptor, tapi memuakkan bagi mereka yang anti korupsi, apalagi rakyat. Dewan Perwakilan Rakyat menjadi lembaga paling korup di Indonesia tahun 2016 menurut hasil survei Global Corruption Barometer (GCB). Ini terlihat dari banyaknya kasus korupsi seperti pengadaan e-KTP yang saat ini sedang heboh-hebohnya karena diduga melibatkan banyak anggota DPR dan akan segera dilakukan persidangan pada 9 Maret mendatang ini.

Survei dilakukan di Indonesia pada periode 26 April sampai 27 Juni 2016 dengan 1000 responden di 31 provinsi. Hasil survei tersebut menempatkan DPR sebagai lembaga paling korup. Dan mirisnya penilaian ini konsisten selama tiga tahun terakhir menurut peneliti Transparency International Indonesia (TII) Wawan Suyatmiko.

Selain itu, hasil survei GCB lainnya menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap langkah pemerintah dalam memberantas korupsi mencapai 65 persen, yang mana naik signifikan dibandingkan pada survei tahun 2103 lalu (zaman pemerintahan siapa ya? hahaha)yang hanya mencapai 13 persen. Hasil survei ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam pemberantasan korupsi makin baik. Ini adalah modal yang sudah cukup baik bagi pemerintah yang sekarang.

Bagi sebagian besar dari kita, tentunya tidak aneh lagi DPR menjadi sarang para koruptor. Anggota DPR yang katanya merupakan perwakilan atau representasi dari pilihan rakyat ternyata banyak yang melakukan atau terlibat dalam kasus korupsi. Ini namanya penyalahgunaan kepercayaan, di mana mereka dipercaya rakyat untuk membangun negara menjadi lebih baik, tapi nyatanya dipakain untuk menyunat uang rakyat. Inikah yang dinamakan wakil rakyat? Berarti ini namanya dipilih oleh rakyat untuk mencuri uang rakyat.

Bahkan pada tahun 2013 lalu, KPK mendaulat DPR sebagai lembaga paling korup di Indonesia selama lima tahun berturut-turut. Dikatakan juga bahwa parlemen di Indonesia adalah koruptor dan hanya di Indonesia parlemen yang korupsi. Dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, hanya di Indonesia parlemennya melakukan korupsi secara terstruktur. Prestasi seperti inikah yang dibanggakan dan dikenal oleh dunia? sungguh terlalu, sungguh prihatin, sungguh memalukan.

Dulu ada seorang teman yang memperlihatkan sebuah video kepada saya. Teman saya ini sangat dengan politik. Video tersebut adalah acara bincang-bincang bersama dengan seorang narasumber anggota DPRD DKI Jakarta yang disiarkan oleh, kalau tidak salah, stasiun JakTV. Di acara itu ada sesi interaktif di mana para pemirsa boleh menelepon dan bertanya pada narasumber. Ternyata hampir semua penelepon mengkritik habis-habisan anggota DPRD tersebut. Saya sendiri tidak ingat lagi namanya.

Bahkan ada beberapa penelepon yang terang-terangan mengecam dan menyindir dengan kasar. Ada satu penelepon yang bertanya pada anggota DPRD itu dengan suara kesal seperti sedang marah, “Saya mau tanya, Pak. Sebenarnya bapak ini wakil rakyat atau tikus rakyat?” Anggota DPRD tersebut tidak bisa menjawab dan terlihat kelabakan. Ia terus menerima kecaman bertubi-tubi dari para penelepon.

Sebenarnya jika kita bertanya pada masyarakat mengenai penilaiannya terhadap DPR, maka pasti hampir semuanya akan memberikan nilai jelek. DPR selama ini sudah dicap jelek dan memiliki reputasi sangat buruk yaitu korupsi. Sulit untuk melihat sisi baiknya dari anggota DPR meski ada beberapa yang jujur dan lurus.

Nah, ternyata Fadli Zon memberikan komentarnya terkait survei ini. Dia mengaku belum tahu apakah survei tersebut hanya didasarkan pemberitaan di media atau melalui proses investigasi hingga ke sistem dan mekanisme yang ada dalam suatu lembaga. “Jadi kalau mau menggali lebih seperti yang saya katakan tadi, potensi terbesar adalah di lembaga yang memiliki anggaran lebih besar yaitu eksekutif, bukan legislatif,” kata Fadli. Menurutnya jika dilihat dari porsi anggaran, DPR justru mendapat porsi sedikit, tidak seperti eksekutif.

Ya elah, inilah salah satu contoh wakil rakyat yang jago ngeles. Bukannya introspeksi diri, malah mengelak. Bagaimana rakyat tidak muak dengan anggota DPR korupsinya lebih banyak disorot? Meski pemberantasan korupsi sudah lebih baik seperti yang dikatakan GCB, saya rasa masih kurang karena belum memberikan efek jera. Sepertinya pemerintah mulai serius menggodok ini untuk menekan, minimal orang kapok korupsi. Kalau tidak, mereka takkan jera dan akan terus melakukan korupsi. Ujung-ujungnya DPR akan terus menyabet piala Oscar kategori korupsi entah sampai kapan. BTW, selamat untuk DPR atas prestasinya. Semoga sadar kalau itu uang rakyat dari hasil pajak.

Bagaimana menurut Anda?

 
http://nasional.kompas.com/read/2017/03/08/17574751/dpr.dianggap.lembaga.terkorup.ini.komentar.fadli.zon



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *