Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Mengakui Masalah Status Keperawanan?



Waktu itu saya diskusi dengan seorang teman mengenai bagaimana mengetahui pasangan yang benar-benar baik sebelum menikah. Karena faktanya, banyak pasangan yang sudah menikah mengeluh bahwa saat pacaran dulu pasangannya baik & perhatian. Pas sudah nikah astaga cuek bebek & sudah tidak seromantis dulu. Mau cerai, malu. Melanjutkan juga, ya bawaannya menderita lahir batin. Jadi hanya bisa berkata, “Andai waktu bisa diputar kembali.”

Prinsip saya & do’i sih, sejelek-jeleknya dirimu, lebih baik jujur. Tidak perlu jaim. Karena jaim tidak bisa bikin kenyang, bikin shock therapy, iya! Jadi kalau do’i mengomel ya saya terima. Saya memang perlu menghormati prinsip kami berdua. Jadi tidak perlu merasa tersakiti oleh kejujuran. Faktanya memang tidak ada orang yang sempurna di dunia ini.

Saat belum pacaran, saya membaca banyak buku tentang pacaran. Paling banyak yang bernuansa rohani. Kebanyakan buku rohani mengatakan seperti ini, “Jangan beritahu kepada orang yang kalian tidak yakini akan menjadi jodoh kalian bahwa kalian sudah tidak perawan lagi. Beritahulah ketika kalian sudah berkomitmen & mendekati pelaminan.”

Waktu baca itu saya benar-benar protes! Kenapa? Koq kayak menjebak orang? Kalau misalnya sudah pacaran 10 tahun & sudah mendekati menikah barulah terbuka, lalu sang prianya tidak terima & mengakhiri hubungan, apa tidak sayang tuh 10 tahun hanya untuk hal remeh temeh seperti itu? Kalau untuk hal besar sih tidak masalah kalau sampai tidak jadi nikah. Memangnya menikah hanya untuk ajang mempertemukan kelamin? Diiih!

Lagian kan kalau laki-lakinya tahu dari awal lalu menemukan perempuan sesuai kriterianya kan bisa sudah ada 3 anak itu dalam jangka 10 tahun. Begitu pun dengan perempuannya. Kalau jujur dari awal & berhasil mendapatkan orang yang tulus mah, sudah bisa jadi 5 anak itu dalam jangka 10 tahun. Iya kan?

Saya benar-benar tidak pernah berpikir untuk menikah hanya demi halal ngeseks! Tidak! Saya ingin menikah dengan orang yang tepat untuk membangun kehidupan yang lebih baik dari segala aspek kehidupan terlepas bagaimana pun masa lalunya! Asal dia sudah jauh lebih baik setelah melalui hal yang sulit dalam hidupnya. Bahkan duda pun kalau sudah matang, ya jauh lebih baik daripada yang masih perjaka tapi sebenarnya masih mentah. * Senggol perjaka.

Kalau hanya berorientasi seks, apa tidak terlalu rendah pernikahan itu? Sebandel-bandelnya saya, tapi saya benar-benar menghormati kehidupan pernikahan. Apalagi dalam agama saya saat menikah itu ada janji kepada Tuhan di hadapan jemaat pula.

Waktu itu saya membatin, “Ini buku rohani tapi koq menyesatkan ya?” Saya kalau membaca, pikiran saya juga jalan. Tidak telan mentah-mentah begitu saja. Jadi saya tidak ikuti petunjuk buku itu. Kecuali yang mengatakan, “Jangan takut terbuka & mengkomunikasikan tentang masalah seks dengan kekasih.” Menurut saya ini adalah sikap orang dewasa. Orang dewasa perlu belajar berdamai dengan masalah & wawasan biologis. Jangan sampai hanya karena mau dicap suci jadi anti membahas masalah itu.

Setahu saya cari pasangan hidup itu lebih susah daripada cari uang. Ironisnya lagi, cari pasangan hidup yang baik-baik itu memang tidak mudah tapi cari pasangan hidup yang tulus jauuuuuuuuhhh lebih susaaaaaaah.

Jadi waktu saya pacaran dengan do’i, baru berapa minggu pacaran & kebetulan kami LDR, saya mengadakan pengakuan yang dia tangkap bahwa saya sudah tidak lagi perawan. Do’i yang memang saya tahu pria baik-baik yang masih perjaka akhirnya menutup telepon. Saya hubungi mulai ogah-ogahan.

Ya sudah, saya minta kejelasan hubungan kami. Tapi dia tidak bisa memberi kepastian. Saya paksa & akhirnya dia memutuskan bahwa kami putus. Saya kecewa? Yes! Tapi saya tenang-tenang saja tuh. Santai. Galau pun tidak, saya giat kuliah demi masa depan yang cerah. Beda waktu saat baru pacaran pertama kalinya, saya diputus, ya saya galau. Sampai masuk got. HAHAHAHAH. :v Maklum, pengalaman pertama sehingga belum terlatih patah hati, makanya masih ababil. Jatuhnya banyakan dramanya. Qiqiqi.

Jadi saya lebih baik kecewa di depan daripada sakit di belakang. Karena saya berpikir, mumpung baru jadian daripada sudah lama jalan baru putus atau sudah nikah baru menyesal seumur hidup karena salah pilih.

Tidak cukup seminggu dia pun menghubungi saya lagi meminta untuk menjalin hubungan kembali. Saya bingung dong. Ternyata dia habis curhat dengan sister-sisternya terkait masalah itu. Dan dia dikasi wejangan. Astagaaaa!!!

Ada sisternya yang menanggapi secara bijaksana, ada juga yang sangat menyayangkan. Yang bijaksana menghubungi saya. Mungkin dikiranya saya sudah sangat sakit hati diperlakukan seperti itu padahal saya santai saja. Dan saya sampaikan kami sudah balikan. Do’i mengaku bahwa dia akan menerima saya apa adanya. Eeeeeeaaaa. Saya belum mengaku bahwa sebenarnya saya masih perawan. Cuma ngetes saja. Wkwkkwkwk :v

Egois?? Ya, saya akui! Tapi bukankah lebih egois jika suatu saat ketika sudah menikah karena tidak tahu bahwa pasangan kita ini menikah demi orientasi seks lalu mengatakan kepadanya, “Kau picik. Meninggalkanku hanya karena masalah remeh begitu?” Padahal setiap orang kan berhak menentukan apa yang dia mau dalam hidupnya. Iya kan?

Saya sih lebih baik memastikan, apakah calon pendamping saya ini memilih menikah bukan semata-mata demi seks halal? Karena bisa fatal akibatnya!

Ya saya benar-benar tidak peduli kalau saya diterpa gosip hanya karena saya tahu apa yang saya mau dalam hidup ini & tahu bagaimana mendapatkannya. Lha, orang yang menyebar gosip juga nanti akan malu dengan sendirinya kalau tahu yang sebenarnya. Salah satu yang saya suka dari do’i sampai saat ini, karena tidak suka mengajak saya untuk membahas masalah selangkangan orang lain yang memang bukan urusan kami. Karena suatu saat kita punya keturunan, karma pasti berlaku!

Pokoknya pacaran sebelumnya putus karena pengakuan itu. Makanya saya lebih banyak diputuskan. Qiqiqi. Ya tidak apa-apa. Daripada saya menyesal jalan dengan orang yang mengkerdilkan kehidupan pernikahan dengan mendefiniskannya sebatas hal kedagingan saja. Terlalu rendah sebuah pernikahan jika hanya diukur dari hal itu, Saudara-Saudara!

Saya berpendapat bahwa jika suatu saat orang seperti ini menikah lalu selingkuh, itu wajaaaaarr!! Karena cara pandangnya terhadap pernikahan hanya sebatas hal esek-esek saja. Menikah agar cepat halal. Memangnya kita babi? Sudah bosan dengan punya istrinya, cari lagi yang lain. Diiihh.. Jadi jangan salahkan laki-laki yang akhirnya begitu, karena sebenarnya kita juga ikut ambil andil dalam menentukan kualitas hidup kita. Kita bukan hanya dipilih tapi berhak memilih! Terlepas masih perawan atau tidak.

Hanya do’i yang berkomitmen untuk mengasihi saya seutuhnya & saya hargai itu. Dan bagi saya, orang seperti ini pantas dibahagiakan & tentunya pantas mendapatkan hal terbaik dalam hidup ini. Saya memang tidak bisa didikte untuk berubah, tapi ketulusan seseorang mampu membuat saya memberikan yang terbaik dari diri saya. Itulah mengapa saya masih tetap tergila-gila padanya. Eeeeeaaa.

Prinsip saya begini, “Dalam memilih teman, partner bisnis ataupun pasangan hidup, saya suka memilih di saat situasi terburuk & ketika kita bukan apa-apa & bukan siapa-siapa. Bukan pada saat senang & sudah berhasil. Karena saya tahu persis, orang yang tulus itu susah didapat. Dan dicintai dengan ketulusan itu merupakan kekayaan yang paling mewah. Karena faktanya, bahkan orang terkaya sekalipun sangat sulit menjumpai orang yang tulus dalam hidupnya. Iya, karena ketulusan tidak pernah bisa dibeli dengan uang.”

Tapi kan.. Tapi kan.. Kalau begitu kita bisa ditimpa gosip.

Eh, bodoh amat. Bahkan terlepas perawan atau pun tidak perawan, kalau ada yang tanya, “Kamu masih perawan tidak?” Jawab saja, “Sudah tidak perawan. Memangnya kenapa?” Orang yang kepo banget masalah begini adalah orang yang akan senang jika mendengar apa yang dia mau dengar. Jadi berikan saja terlepas benar atau tidak.

Tapi lanjutkan dengan mengatakan, “Tidak usah urus daging saya mah. Jangan sampai karena sibuk urus daging orang lain, daging situ tidak terawat. Pastikan saja dagingmu tidak jamuran. Karena kasihan pasanganmu jika punya pasangannya jamuran.” Wkwkkwk :v

Masalah keperawanan itu hanya masalah libido & perspektif cinta saja. Bukan masalah moral. Karena masalah moral yang sesungguhnya adalah mengurusi hal remeh temeh orang lain seperti ketidakperawanan & ketidakperjakaan orang lain. Yang jika kita ketahui pun tidak akan membuat rekening kita menjadi gendut apalagi membuat kita menjadi jauh lebih baik. Karena semua orang punya dosa. Hanya saja dosanya berbeda. Yang jadi masalah, apakah dosa orang lain itu merugikan kita atau tidak. Kalau tidak, ya tidak perlu terlalu jauh diurusi.

Jadi kapan sebenarnya memberitahu kepada pasangan mengenai status keperawanan? Tergantung. Jika memang ingin serius dan ingin mencari suami, terlepas perawan atau tidak, buat saja argumen di awal yang membuatnya berpikir bahwa kita sudah tidak perawan lagi. Ingatlah, mencari orang yang tulus itu susaaaaah. Lebih susah dari mencari orang yang baik. Lebih baik membahas itu di awal jalan sebelum ada chemistry dan merasa nyaman. Kasi bahwa sudah tidak perawan. Biar saat diputuskan tidak sakit. Qiqiqi. Ini hanya dikatakan kepada laki-laki yang kita yakini baik dan masih perjaka. Hanya untuk memastikan apakah dia benar-benar baik.

Kalau dia sudah terbiasa dengan hal esek-esek, lebih baik tidak perlu kasi tahu. Cukup lemparkan saja pertanyaan, “Kalau perawan, kenapa? Kalau tidak perawan lagi, kenapa?” Tapi kalau hanya laki-laki yang sekedar kepo dan memang kita tidak berniat menjalin hubungan dengannya, lebih baik tidak perlu diberitahu. Karena ada laki-laki yang ingin memanfaatkan keadaan.

Sudah, itu saja dulu.



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *