Mengapa Penistaan Agama Menjadi Trend Topic 2016


Penistaan agama bukan topik yang menyenangkan untuk dibicarakan. Bahkan, banyak orang yang berusaha menghindari topik ini karena dianggap terlalu sensitif untuk didiskusikan. Tapi, itu dulu. Jaman telah berubah secara drastis. Kasus penistaan agama yang menimpa Ahok memberi warna baru dalam kehidupan bernegara dan berbangsa di Indonesia.

Kalau kita melihat ke belakang, beberapa kasus penistaan agama yang pernah terjadi di Indonesia, kasus-kasus tersebut tidak membuat heboh seperti kasus Ahok. Ada beberapa kemungkinan yang bisa membuat sebuah topik yang dulu di anggap tabu, sekarang seakan-akan menjadi “makanan rendah kalori”.

1. Perkembangan Teknologi

Perkembangan teknologi yang sangat luar biasa. Telepon genggam yang dulu berfungsi sebagai alat komunikasi, sekarang berubah fungsi menjadi alat serba guna. Telepon yang berbentuk kecil, mungil dan imut melakukan perubahan bentuk menjadi lebih besar dan bahkan muncul istilah tablet. Tidak hanya bentuk yang berubah, layanan yang diberikan juga ikut berubah. Short Message Service (SMS) sudah menjadi teknologi ketinggalan jaman.

Teknologi menemukan panutan baru yaitu berfokus pada internet. Android membuka pintu bagi perkembangan teknologi dunia. Terima kasih kepada mbah Google yang telah melahirkan om Android di tengah masyarakat dunia.Android

Setelah mbah Google melahirkan Android, seluruh teknologi berlomba-lomba untuk memberikan pelayanan istimewa bagi pemakai Android dan akhirnya “meledak“ seperti Whatsapp, Youtube, Blog, shopping online, dan media sosial seperti Facebook, Twitter dan sejenisnya.

Anda ketinggalan berita mengenai Ahok?

Anda ketinggalan berita mengenai FPI?

Anda ketinggalan berita mengenai BY?

Apapun yang anda cari, mbah Google akan mencarikannya untuk anda. Saran yang baik dan benar untuk di ingat adalah “Jangan sok tahu karena anda bukan Google”.

2. Perubahan iklim politik

Politik Indonesia juga mengikuti perkembangan jaman. Politik yang dulu berlomba untuk memberikan janji-janji kepada rakyat, terlihat sudah mencapai titik jenuh. Kelihatannya para politisi sudah kehabisan bahan untuk dijanjikan ke rakyatnya. Janji yang diberikan setiap pemilihan umum selalu sama dan berulang.

Jokowi dan Ahok membuat terobosan baru di dunia politik Indonesia. Dia tidak hanya memberikan janji tapi memberikan solusi dan metode penyelesaian untuk suatu masalah yang terjadi di Jakarta. Dengan adanya Jokowi dan Ahok sebagai pelopor metode “blusukan” dan metode “jemput bola”, membuat lawan-lawan politiknya kesulitan untuk mengalahkan mereka bila hanya menggunakan jurus lama “mengumbar janji setinggi langit”.  Para politisi membutuhkan jurus baru untuk memenangkan pertandingan. Saya tidak akan membahas jurus barunya, saya persilahkan para pembaca Seword untuk berkhayal sesuai dengan fantasi masing-masing.

3. Surga dan Neraka

Kalau kita mau melihat ke belakang, orang-orang jaman dulu pernah mengatakan bahwa bila kamu ingin masuk surga, berbuat baiklah kepada orang lain, bermurah hati kepada orang lain dan sebagainya. Hal ini membuat umat beragama seperti berlomba untuk “memberi”dan berusaha untuk tidak “meminta”.

Kelihatannya, surga dan neraka juga telah mengikuti perkambangan jaman. Bila anda sudah berbuat baik, menjadi umat beragama yang baik, mengikuti dan mengamalkan ajaran agama secara benar, lebih banyak “memberi” daripada “meminta”, jangan senang dulu. Anda belum tentu masuk surga. Keputusan anda akan masuk surga atau neraka tergantung dari pilihan anda pada saat pemilu atau pilkada. Bingung? Sama saya juga.

4. Demokrasi

Demokrasi berevolusi yang dulunya demokrasi terpadu, menjadi demokrasi kerakyatan. Dan akhirnya berubah bentuk menjadi demokrasi “kebablasan”. Kebebasan berpendapat, kebebasan untuk menggunakan hak politik, kebebasan bermasyarakat dan kebebasan lainnya yang merupakan hak dari semua Warga Negara.

Kalau kita mau melihat arti dari kebebasan itu sendiri berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

Kebebasan / ke.be.bas.an / n keadaan bebas; kemerdekaan: manusia yang tertindas harus berjuang untuk -nya;– aksi politik kemerdekaan atau keleluasaan setiap warga negara untuk melibatkan diri dalam kegiatan politik (tanpa adanya berbagai paksaan dari pihak masyarakat dan pemerintah); – dasar manusia hak asasi manusia; – pers kebebasan mengeluarkan pikiran dan pendapat melalui media massa

Kalau kita lihat arti kebebasan dalam hal aksi politik, setiap warga Negara mempunyai kebebasan untuk melakukan kegiatan politik tanpa ada paksaan oleh siapapun. Kalau ada sebagian dari masyarakat Indonesia yang tidak memperbolehkan kelompoknya untuk memilih calon tertentu, agama tertentu ataupun golongan tertentu, membuat saya bertanya-tanya, apa arti atau pedoman dari kebebasan politik di Indonesia saat ini. Karena saya tidak tahu jawabannya, silahkan para pembaca Seword untuk membantu untuk mencarikan jawaban yang tepat bagi masyarakat Indonesia. Saya yakin, mereka sama bingungnya dengan saya.

5. Fungsi Kemasyarakatan

Setiap warga Negara yang hidup dan berkembang biak di suatu Negara mempunyai fungsi yang berbeda-beda di setiap lini kemasyarakatan. Terlihat sekali, sebagian masyarakat sudah bosan dengan fungsi yang mereka jalani saat ini. Mereka memilih untuk mengubah cara dan gaya hidup mereka dan beralih fungsi ke sisi kemasyarakatan yang berbeda.

Kita akan mengambil dua kasus yang lagi hangat saat ini:

1. Organisasi masyarakat melakukan sweeping menjelang hari natal yang lalu. Mereka mendatangi tempat perbelanjaan di beberapa kota untuk menjalankan fatwa MUI. Sebagai organisasi masyarakat yang berdasarkan agama, tidak mempunyai wewenang ataupun fungsi sebagai penegak hukum. Hanya penegak hukum yang di atur oleh Undang-Undang yang mempunyai hak untuk melakukan pemeriksaan maupun memberikan peringatan kepada pelanggar hukum.

Organisasi ini terlihat sudah bosan untuk menjalankan fungsinya sebagai organisasi agama. Mereka memilih untuk keluar dari jalurnya dan beralih profesi menjadi penegak hukum.

2. Kasus yang kedua adalah Aiptu Sutisna melawan Dora Natalia. Ini adalah kasus yang unik tapi nyata. Polisi di serang dan di maki oleh seorang wanita. Akhir kata, polisi yang diserang mencabut tuntutannya dan menerima permintaan maaf dari sang wanita.

Dalam kasus ini, terlihat bahwa fungsi polisi telah beralih menjadi pemuka agama yang memberikan maaf kepada penyerang polisi. Pembaca Seword akan protes dengan tulisan saya ini, orang berbuat baik tidak boleh. Penulis bodoh.

Bila polisi ingin berbuat baik, silahkan saja, tapi berbuat baiklah untuk pelanggaran ringan. Ada mobil yang masuk ke jalan yang ada rambu di larang masuk. Polisi bisa melakukan tindakan baik dengan memberikan pengarahan tanpa memberikan surat tilang.

Polisi: Maaf selamat siang, Ibu salah masuk jalan. Di depan ada rambu di larang masuk.

Wanita: Maaf Pak, saya tidak lihat kalau ada rambu di larang masuk. Saya baru sampai ke Jakarta, naik mobil dari Manokwari Papua.

Polisi: Memangnya Ibu mau kemana?

Wanita: Saya mau ke Daan Mogot Pak, lewat mana ya?

Polisi: Ibu lurus saja belokan kedua belok kiri, terus sampai belokan kedua belok kiri, terus sampai ketemu jalan besar belok kiri, belokan kedua Ibu belok kiri lagi

Wanita: Itu sudah sampai Daan Mogot Pak?

Polisi: Bukan Bu, Ibu nanti kembali kesini lagi, nanti saya kasih surat tilang lagi.

Marilah kita merenungkan sejenak fungsi diri kita masing-masing dalam masyarakat. Jangan seperti contoh diatas. Polisi memberikan maaf walaupun di pukul, di maki-maki, sedangkan pemuka agama tidak mengenal kata maaf dan toleransi.

Sekian coretan dari saya. Semoga bermanfaat.



Source link

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *